Mengingat Perbuatan TUHAN
Ayat Firman
Mazmur 77:10-15
“Maka kataku: "Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah." Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa. Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf.”
Konteks
Mazmur 77 menggambarkan Asaf dalam kegelisahan, bertanya-tanya apakah Allah telah meninggalkannya. Titik balik terjadi ketika ia memutuskan mengingat perbuatan-perbuatan Allah di masa lalu. Mengingat karya Allah memulihkan imannya.
Renungan
Mazmur 77 dimulai dengan kegelisahan jiwa Asaf yang mendalam. Ia bertanya dengan putus asa: apakah Tuhan menolak untuk selama-lamanya? Apakah kasih setia-Nya sudah berakhir? Puncak keputusasaannya ada di ayat 10: "tangan kanan Yang Mahatinggi berubah." Ia merasa Allah telah berubah, tidak lagi seperti dulu. Namun di sinilah titik balik terjadi. Asaf membuat keputusan yang menyelamatkan: "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN." Ia mengalihkan fokus dari perasaannya kepada fakta tentang siapa Allah dan apa yang telah Dia lakukan. Ia merenungkan keajaiban Allah dari zaman purbakala — khususnya penebusan Israel dari Mesir. Mengingat karya Allah di masa lalu menjadi obat bagi keraguan di masa kini.
Proses pemulihan iman Asaf mengajarkan doktrin penting tentang kesetiaan dan keimutabilitasan Allah (immutability). Perasaan Asaf berkata "tangan Allah berubah," tetapi kebenaran berkata Allah tidak berubah. "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus!" dan "Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban." Allah yang menebus Israel dengan lengan-Nya adalah Allah yang sama hari ini. Ingatan akan karya penebusan masa lalu menjadi jangkar bagi iman di masa sulit. Inilah pola yang konsisten dalam Alkitab: umat dipanggil mengingat perbuatan Allah agar iman mereka diteguhkan. Bagi kita, karya penebusan terbesar adalah salib Kristus — ketika kita meragukan kasih Allah, kita memandang salib.
Kita sering membiarkan perasaan menjadi penentu kebenaran. Ketika merasa Allah jauh, kita menyimpulkan Allah memang telah meninggalkan kita. Mazmur ini mengoreksi: perasaan bukanlah ukuran kebenaran tentang Allah. Asaf merasa Allah berubah, tetapi ia memilih untuk mengingat kebenaran yang melampaui perasaannya. Iman bukan menyangkal perasaan, melainkan tidak membiarkan perasaan memerintah. Cara melawan keraguan bukanlah dengan introspeksi berlebihan tentang perasaan kita, melainkan dengan mengarahkan pandangan kepada perbuatan Allah yang nyata dan tak berubah. Mengingat adalah disiplin rohani yang menyehatkan jiwa.
Dalam keluarga, ajarkan praktik "mengingat perbuatan Allah." Buatlah kebiasaan menceritakan kembali bagaimana Allah pernah menolong keluarga di masa lalu — saat melewati kesulitan, menjawab doa, atau menyediakan kebutuhan. Mungkin keluarga dapat membuat "buku kenangan" tentang kebaikan Allah, agar di masa sulit kalian dapat membacanya kembali. Ketika anak-anak atau orangtua bergumul dengan keraguan dan merasa Allah jauh, tuntun mereka untuk mengingat karya Allah, bukan tenggelam dalam perasaan. Arahkan terutama kepada salib Kristus sebagai bukti tertinggi kasih Allah yang tidak berubah. Dengan mengingat, keluarga belajar bahwa iman bertahan bukan karena perasaan stabil, melainkan karena Allah yang setia.
Pokok Doa
- 1Bersyukur karena Allah tidak berubah dalam kasih setia-Nya
- 2Memohon kekuatan untuk mengingat perbuatan Allah di masa sulit
- 3Berdoa agar perasaan tidak memerintah iman kami
- 4Mendoakan agar keluarga belajar memandang salib saat ragu
Bahan Renungan
Kapan Allah pernah menolong keluarga kita, dan bagaimana mengingatnya menguatkan iman kita hari ini?