Bukan Kepada Kami, ya Tuhan
Ayat Firman
Mazmur 115:1-8
“Bukan kepada kami, TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu!”
Konteks
Mazmur 115 ditulis dalam konteks Israel yang mendapat tekanan dan cemoohan dari bangsa-bangsa penyembah berhala. Ayat pembukanya—"Bukan kepada kami"—adalah pengakuan teologis yang radikal: tujuan seluruh kehidupan adalah kemuliaan nama Allah, bukan kemuliaan diri. Pemazmur lalu mengontraskan Allah yang hidup dengan berhala-berhala buatan tangan manusia yang bisu dan mati.
Renungan
Kalimat pembuka Mazmur 115 adalah antitesis dari semua ambisi manusia yang alami: "Bukan kepada kami, TUHAN, bukan kepada kami." Pengulangan frasa "bukan kepada kami" dalam bahasa Ibrani berfungsi sebagai penekanan yang kuat—sebuah penolakan total terhadap kecenderungan manusia untuk menjadikan dirinya sendiri pusat kehidupan. Pemazmur tidak meminta pujian untuk dirinya, tetapi memohon agar nama TUHAN dipermuliakan—"oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu." Dua atribut ini—kasih (hesed, kasih setia perjanjian) dan kesetiaan (emet, kebenaran)—adalah fondasi dari seluruh harapan orang percaya.
Kontras yang dibangun pemazmur antara Allah yang hidup (ay. 3) dan berhala-berhala (ay. 4-8) adalah polemik teologis yang tajam. Berhala memiliki mulut tetapi tidak bicara, mata tetapi tidak melihat, telinga tetapi tidak mendengar, hidung tetapi tidak mencium, tangan tetapi tidak meraba, kaki tetapi tidak berjalan. Lalu kesimpulan yang sangat keras di ayat 8: "Seperti itulah jadinya orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya." Penyembah berhala menjadi serupa dengan berhala yang mereka sembah—mati, bisu, buta. John Calvin dan para Reformator sangat menekankan poin ini: apa yang kita sembah itulah yang kita jadikan tuan, dan apa yang kita jadikan tuan itulah yang membentuk karakter kita.
Berhala di zaman kita jarang berbentuk patung batu. Berhala modern berbentuk karier yang menjanjikan identitas, relasi yang menjanjikan keamanan, uang yang menjanjikan kebebasan, atau pengakuan yang menjanjikan nilai diri. Mazmur 115 mengingatkan kita bahwa semua "berhala" ini—apa pun yang kita andalkan sebagai pengganti Allah—pada akhirnya mengecewakan dan mengosongkan. Mereka tidak bisa berbicara di saat kita paling membutuhkan suara, tidak bisa melihat kebutuhan kita yang paling dalam, tidak bisa mendengar jeritan hati kita yang tersembunyi.
Pengakuan "bukan kepada kami" bukan sekadar kerendahan hati formal—ini adalah pembebasan sejati. Ketika kita berhenti menjadikan diri kita pusat semesta, beban yang selama ini kita pikul—beban harus membuktikan diri, harus berhasil, harus dikagumi—jatuh dari pundak kita. Hidup yang diorientasikan pada kemuliaan Allah adalah hidup yang paling bebas, karena kita tidak lagi harus menjadi lebih dari yang kita mampu. Kita cukup menjadi alat di tangan Allah yang berdaulat, dan Dialah yang mengerjakan kemuliaan-Nya melalui kita.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Allah adalah Allah yang hidup dan berbicara—bukan berhala yang bisu—dan bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya secara penuh dalam firman-Nya dan dalam Yesus Kristus.
- 2Mohon agar Tuhan mengungkapkan berhala-berhala tersembunyi dalam hati kita—hal-hal yang kita andalkan lebih dari Allah—dan memberikan anugerah untuk bertobat dari penyembahan berhala yang halus itu.
- 3Berdoa agar seluruh kehidupan kita—pekerjaan, pelayanan, relasi, dan ambisi—semakin diorientasikan pada satu tujuan: kemuliaan nama Tuhan, bukan kemuliaan diri.
- 4Mohon agar gereja Tuhan menjadi komunitas yang secara tegas menolak nilai-nilai dunia yang mendewakan diri sendiri, dan menjadi saksi nyata bahwa ada Tuhan yang hidup dan berdaulat.
Bahan Renungan
Identifikasi satu "berhala modern" yang paling mudah menggantikan posisi Allah dalam kehidupan Anda—sesuatu yang Anda andalkan untuk memberikan identitas, keamanan, atau nilai diri—dan bagaimana Injil membebaskan Anda dari ketergantungan tersebut?