Bersyukurlah kepada Tuhan
Ayat Firman
Mazmur 118:1-9
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"”
Konteks
Mazmur 118 adalah penutup dari "Hallel Mesir" dan diyakini dinyanyikan Yesus dan para murid setelah Perjamuan Malam Terakhir (Matius 26:30). Mazmur ini adalah kesaksian seorang yang telah mengalami keselamatan dari ancaman maut dan merayakan kebaikan Allah yang tidak tergoyahkan.
Renungan
Tiga kali dalam ayat 1-4, frasa "untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" diulangi oleh tiga kelompok yang berbeda: Israel, kaum Harun (para imam), dan mereka yang takut akan TUHAN. Pengulangan liturgis ini adalah teknik yang disengaja—bukan karena pengarang kehabisan kata, tetapi karena kebenaran ini terlalu besar untuk diucapkan sekali saja. Kasih setia Allah—hesed—bersifat kekal. Itu bukan respons Allah terhadap kesetiaan kita; itu adalah karakter Allah yang mendahului dan melampaui segala keadaan kita. Reformasi teologi yang dibawa Calvin dan Luther pada intinya adalah tentang ini: keselamatan bersumber dari karakter Allah yang kekal, bukan dari kualitas iman atau ketaatan manusia yang berfluktuasi.
Ayat 5-9 mengisahkan pengalaman pemazmur secara lebih personal: "Dalam kesesakan aku berseru kepada TUHAN. TUHAN menjawab aku dengan memberi kelegaan." Kata Ibrani untuk "kesesakan" adalah meitsar—secara harfiah berarti "tempat yang sempit, tersudut." Doa terjadi di titik paling terbatas dari kemampuan manusia, ketika tidak ada jalan keluar yang terlihat. Dan respons Allah? Ia menjawab "dengan memberi kelegaan"—kata yang secara harfiah berarti "menempatkan dalam keluasan." Dari sempitan menuju lapangan—inilah pola penebusan Allah yang konsisten di seluruh Alkitab.
Ayat 8-9 menyimpan sebuah prinsip yang terasa kontra-budaya: "Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia. Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada para bangsawan." Ini bukan pesimisme terhadap kemanusiaan, melainkan pernyataan tentang di mana fondasi keamanan sejati harus diletakkan. Manusia—betapapun kuatnya, betapapun berkuasanya—memiliki keterbatasan yang inheren. Hanya Allah yang tidak memiliki keterbatasan dalam kemampuan-Nya untuk menolong. Mengandalkan manusia bukan dosa per se, tetapi menjadikan manusia sebagai sumber keamanan utama adalah penyembahan berhala dalam bentuknya yang paling modern.
Yesus menyanyikan Mazmur ini di malam sebelum penyaliban-Nya. Ini bukan ironi kecil—ini adalah kenyataan yang menggetarkan. Ia yang adalah Allah sendiri, ketika memasuki "kesesakan" paling gelap yang pernah dialami manusia, berlindung pada apa yang dinyatakan Mazmur ini: kebaikan dan kasih setia Allah yang kekal. Di Taman Getsemani, saat "tempat yang paling sempit" dari penderitaan-Nya, Ia berdoa kepada Bapa. Kasih setia Allah adalah jangkar yang bahkan Putra Allah sendiri pegang erat-erat.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kebaikan Allah yang dinyatakan bukan hanya dalam berkat-berkat yang menyenangkan, tetapi juga dalam cara Ia setia menolong di saat-saat paling gelap dan sempit dalam hidup kita.
- 2Mohon agar ketika menghadapi "kesesakan"—kondisi yang terasa sempit dan tanpa jalan keluar—anugerah pertama yang kita lakukan adalah berseru kepada Tuhan, bukan lari ke sumber pertolongan manusia.
- 3Berdoa bagi seseorang yang sedang dalam "kesesakan" hari ini—yang merasa tersudut oleh keadaan—agar mereka merasakan bahwa Allah mendengar dan menjawab dengan memberi kelegaan.
- 4Mohon agar pengalaman-pengalaman pertolongan Tuhan di masa lalu menjadi bukti yang kita ceritakan kepada generasi berikutnya, memperkuat iman mereka bahwa kasih setia-Nya memang untuk selama-lamanya.
Bahan Renungan
Dalam situasi "kesesakan" yang pernah atau sedang Anda alami, apakah ada godaan untuk mencari pertolongan di tempat lain sebelum datang kepada Tuhan—dan apa yang bisa Anda pelajari dari Mazmur ini tentang urutan prioritas tersebut?