Kembali

Pujilah Tuhan, Segala Bangsa

MazmurKasih Setia Allah yang Universal

Ayat Firman

Mazmur 117:1-2

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!

Konteks

Mazmur 117, meskipun hanya dua ayat, adalah Mazmur terpendek sekaligus salah satu yang paling kaya secara teologis. Mazmur ini memanggil SELURUH bangsa—bukan hanya Israel—untuk memuji Tuhan, menunjukkan bahwa kasih Allah memiliki cakupan yang melampaui batas etnis dan nasional. Paulus mengutip Mazmur ini dalam Roma 15:11 untuk membuktikan bahwa misi kepada bangsa-bangsa sudah ada dalam Perjanjian Lama.

Renungan

Mazmur 117 hanya dua ayat, tetapi menyimpan sebuah bom teologis: panggilan kepada "segala bangsa" dan "segala suku bangsa" untuk memuji TUHAN. Dalam konteks Perjanjian Lama di mana Israel adalah umat pilihan Allah yang eksklusif, ini adalah pernyataan yang mengejutkan. Mengapa bangsa-bangsa harus memuji Allah Israel? Karena kasih-Nya—hesed-Nya—tidak hanya tercurah untuk Israel, tetapi juga atas "kita"—frasa yang dalam bahasa aslinya mencakup lebih dari sekadar Israel. Pemazmur sudah melihat ke depan: keselamatan yang dimulai melalui Israel akan sampai kepada ujung-ujung bumi.

Paulus, dalam argumentasinya di Roma 15 tentang penerimaan bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam gereja, secara strategis mengutip Mazmur 117 di antara beberapa teks Perjanjian Lama. Ini bukan kebetulan—ini adalah argumentasi bahwa misi universal gereja bukan inovasi Perjanjian Baru, melainkan penggenapan dari maksud Allah yang sejak awal sudah bersifat universal. Rencana penebusan Allah selalu mencakup "segala suku bangsa"—bahkan sebelum Yesus lahir, doktrin ini sudah tersimpan dalam dua baris Mazmur yang pendek ini.

Dua alasan yang diberikan pemazmur untuk pujian itu profoundly Reformed: kasih Allah yang "hebat" (gabar—menang, berkuasa, mengalahkan) dan kesetiaan Allah "untuk selama-lamanya." Ini bukan sekedar fakta sentimental; ini adalah pernyataan tentang karakter Allah yang tidak berubah. Hesed Allah—kasih perjanjian-Nya—adalah kasih yang telah membuktikan dirinya, yang bukan hanya diucapkan tetapi diwujudkan dalam tindakan-tindakan historis yang nyata: dari pembebasan dari Mesir hingga penebusan di kayu salib. Dan karena Allah tidak berubah, kasih itu tidak akan berakhir.

Bagi gereja hari ini, Mazmur 117 adalah mandat misi yang paling padat. Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati kasih Allah secara pribadi, tetapi untuk membawa semua bangsa kepada pengenalan tentang kasih-Nya. Dua ayat ini mengingatkan kita bahwa gereja yang sehat selalu punya pandangan yang melampaui jemaatnya sendiri, kotanya sendiri, bangsanya sendiri. Kasih Allah yang tidak berbatas menuntut gereja yang berperspektif tidak berbatas pula.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa kasih Allah tidak terbatas pada satu kelompok atau bangsa—bahwa kita sebagai orang Indonesia, yang bukan dari umat Israel, telah dimasukkan ke dalam lingkaran kasih setia-Nya melalui Injil Kristus.
  2. 2Berdoa bagi pelayanan misi—baik lintas budaya maupun kepada tetangga terdekat—agar semakin banyak "segala bangsa" mendengar, percaya, dan ikut memuliakan Allah.
  3. 3Mohon agar Tuhan memperluas visi kita melampaui kebutuhan dan kenyamanan kita sendiri, untuk turut menanggung beban bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus.
  4. 4Berdoa agar kesetiaan Allah "untuk selama-lamanya" menjadi jangkar pengharapan kita—terutama ketika keadaan dunia terlihat tidak menentu dan pengharapan seolah-olah rapuh.

Bahan Renungan

Jika kasih Allah sungguh-sungguh "untuk segala bangsa," apa tanggung jawab konkret yang paling dekat dengan kehidupan Anda sehari-hari untuk menjadi bagian dari panggilan universal tersebut?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda