Berdamai Lebih Dahulu
Ayat Firman
Matius 5:23-24
“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Konteks
Yesus menafsirkan hukum keenam lebih dalam. Bukan hanya pembunuhan yang melanggar, tetapi amarah yang tersimpan dalam hati terhadap saudara.
Renungan
Para ahli Taurat mengajar, "Jangan membunuh." Yesus tidak membatalkan hukum itu, melainkan membongkar maknanya sampai ke akar. "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum." Ia menarik garis dari tindakan membunuh kembali ke amarah yang melahirkannya. Pembunuhan dimulai jauh sebelum tangan bergerak—ia berakar di hati yang membenci, di lidah yang menghina "kafir" dan "jahil." Karena itu Yesus berkata: jika engkau hendak beribadah tetapi teringat ada keretakan dengan saudaramu, tinggalkan persembahanmu dan berdamailah dahulu. Rekonsiliasi dengan sesama mendahului ritual dengan Allah.
Mengapa Yesus berwenang menafsir hukum sedalam ini? Karena Ia adalah Sang Pemberi Hukum itu sendiri. Bukan ahli Taurat yang mengutip pendapat orang, melainkan Allah yang berinkarnasi yang berkata, "Tetapi Aku berkata kepadamu." Dan ketika standar ini menelanjangi kita—siapa yang tidak pernah marah, tidak pernah menghina dalam hati?—Injil menunjukkan bahwa Kristus sendiri menanggung hukuman atas amarah dan kebencian kita. Ia adalah persembahan yang sempurna yang mendamaikan kita dengan Allah, sehingga kita dimampukan mendamaikan diri dengan sesama.
Moralisme membaca ini sebagai aturan baru yang lebih berat: "tahanlah amarahmu." Tetapi maksud Yesus bukan memberi beban yang mustahil agar kita mencoba lebih keras, melainkan menyingkapkan bahwa hati kita rusak dan butuh diubah. Agama yang dangkal merasa aman karena tidak pernah membunuh, sambil memelihara dendam bertahun-tahun. Yesus menyatakan bahwa ibadah yang dipersembahkan dengan hati yang menyimpan permusuhan adalah ibadah yang cacat. Allah lebih menghargai hati yang berdamai daripada persembahan yang megah.
Dalam keluarga, amarah sering bersembunyi di balik kesopanan. Kita berdoa bersama di malam hari sementara ada luka yang belum dibereskan antara suami-istri atau orang tua-anak. Firman ini menantang: berdamailah dahulu. Jadikan kebiasaan keluarga untuk tidak membiarkan matahari terbenam dengan amarah yang tersimpan. Ajarkan anak meminta maaf dan memberi maaf dengan tulus, bukan sekadar formalitas. Sebelum ibadah keluarga, periksalah hati—adakah saudara yang perlu kita datangi lebih dahulu?
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus mendamaikan kita dengan Allah
- 2Memohon hati yang bebas dari amarah dan dendam
- 3Berdoa agar berani berdamai lebih dahulu dengan sesama
- 4Mendoakan keluarga agar tidak menyimpan luka yang belum dibereskan
Bahan Renungan
Adakah keretakan dalam keluarga atau dengan orang lain yang perlu kita damaikan sebelum kita beribadah?