Siapakah Gerangan Orang Ini
Ayat Firman
Markus 4:35-41
“Lalu Ia bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Angin pun redalah dan menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan air pun taat kepada-Nya?"”
Konteks
Setelah seharian mengajar dalam perumpamaan-perumpamaan, Yesus memerintahkan murid-murid untuk menyeberang danau Galilea. Di tengah perjalanan, badai besar menghantam. Yesus tidur di buritan. Murid-murid yang panik—sebagian dari mereka nelayan berpengalaman—membangunkan-Nya dengan pertanyaan yang mengandung celaan: "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?"
Renungan
Perikop ini adalah salah satu teofani paling dramatis dalam Injil—penampakan kuasa Ilahi dalam tindakan yang konkret dan bisa disaksikan. Markus menggambarkan badai dengan bahasa yang hidup: "angin rebut yang dahsyat" dan "ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu mulai penuh air." Ini bukan hujan ringan; ini adalah ancaman kematian yang nyata. Dan di tengah semua itu, Yesus tidur—gambaran ketenangan yang melampaui semua pemahaman.
Ketika Yesus menghardik angin dan berkata kepada danau "Diam! Tenanglah!" (Siōpa, pephimōso—kata yang persis sama yang digunakan ketika Ia mengusir roh jahat dalam Markus 1:25), Ia berbicara kepada alam seperti berbicara kepada makhluk yang mendengar perintah-Nya. Ini adalah bahasa Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya. Dalam Mazmur 89:9, Allah sendiri yang "meredakan lautan yang mengamuk." Markus sedang memperlihatkan secara implisit tetapi tak terbantahkan: Yesus melakukan apa yang dalam Perjanjian Lama hanya Allah yang bisa lakukan.
Pertanyaan Yesus kepada murid-murid—"Mengapa kamu tidak percaya?"—bukan teguran yang dingin. Ini adalah undangan untuk merefleksikan di mana iman mereka berdiri. Mereka sudah mendengar ajaran-Nya, sudah menyaksikan mujizat-mujizat-Nya, sudah berjalan bersama-Nya—namun badai yang nyata ternyata lebih nyata bagi mereka daripada kehadiran Kristus di dalam perahu yang sama. Ketakutan murid-murid bukan dosa yang tidak bisa dimengerti; namun Yesus menunjuk kepada sebuah kemungkinan yang seharusnya mengubah segalanya: jika Sang Pencipta ada dalam perahumu, badai tidak memiliki kata terakhir.
Pertanyaan murid-murid di akhir perikop—"Siapakah gerangan orang ini, sehingga angin dan air pun taat kepada-Nya?"—adalah pertanyaan yang seharusnya terus bergema dalam hati setiap orang percaya. Mereka yang mengikut Yesus tidak selalu memahami sepenuhnya siapa yang mereka ikuti. Namun setiap badai hidup adalah kesempatan untuk mengenal Dia lebih dalam: bukan sebagai guru bijak yang menemanimu di perahu, melainkan sebagai Tuhan atas segala badai yang kamu hadapi.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus yang menghardik badai Galilea adalah Kristus yang sama yang ada di "perahu" kehidupan kita—dan kuasa-Nya tidak berkurang.
- 2Memohon iman yang melampaui ketakutan: kepercayaan yang mengingat kehadiran Kristus bahkan ketika badai terasa lebih nyata dari janji-janji-Nya.
- 3Berdoa untuk semua yang sedang berada di tengah "badai" kehidupan yang dahsyat—penyakit, krisis keluarga, kehilangan—agar mereka mengalami kedamaian yang melampaui pemahaman.
- 4Meminta pertumbuhan dalam pengenalan akan siapa Kristus sesungguhnya: bukan hanya guru moral, tetapi Tuhan atas alam, atas waktu, dan atas setiap badai yang pernah ada.
Bahan Renungan
Badai apa yang sedang mengancam untuk menenggelamkan "perahu" hidupmu saat ini? Apa yang membantu kamu ingat bahwa Kristus ada dalam perahu yang sama—dan bahwa kuasa-Nya melebihi badai itu?