Kembali

Roh Tuhan Ada Pada-Ku

LukasMisi Mesias

Ayat Firman

Lukas 4:18-19

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Konteks

Lukas mencatat khotbah perdana Yesus di sinagoge Nazaret, kampung halaman-Nya. Yesus membuka gulungan kitab Yesaya dan membacakan nubuat tentang Mesias, lalu berkata bahwa nas itu digenapi pada hari itu juga. Inilah deklarasi misi-Nya secara resmi di hadapan orang-orang yang mengenal-Nya sejak kecil.

Renungan

Yesus memilih nas dari Yesaya 61 sebagai manifesto pelayanan-Nya, lalu menutup gulungan dan berkata, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Lukas, yang sepanjang Injilnya menyoroti belas kasihan Kristus bagi yang terpinggirkan, menempatkan adegan ini sebagai kunci pembuka pelayanan publik Yesus. Perhatikan siapa yang menjadi sasaran misi-Nya: orang miskin, tawanan, buta, dan tertindas. Ini bukan sekadar kategori sosial-ekonomi; ini gambaran kondisi rohani manusia yang terbelenggu dosa, buta terhadap kebenaran, dan tertindas oleh kuasa kegelapan. "Tahun rahmat Tuhan" merujuk pada Tahun Yobel, masa pembebasan total — dan Yesus menyatakan diri sebagai penggenap Yobel sejati.

Siapakah Kristus? Ia adalah Mesias yang diurapi Roh Kudus untuk membawa keselamatan. Frasa "Roh Tuhan ada pada-Ku" menunjukkan karya Tritunggal dalam keselamatan: Bapa mengutus, Anak melaksanakan, Roh mengurapi. Dalam teologi Reformed, keselamatan adalah karya seluruh Allah Tritunggal, bukan usaha manusia. Yesus tidak datang sebagai guru moral atau pemimpin revolusi sosial belaka; Ia datang sebagai Pembebas yang berdaulat. Manusia tidak dapat membebaskan dirinya dari belenggu dosa, sebagaimana tawanan tidak dapat membuka selnya sendiri atau orang buta tidak dapat memberi penglihatan kepada dirinya. Pembebasan harus datang dari luar, dari Dia yang diurapi.

Ada bahaya membaca nas ini sebagai program perbaikan sosial yang kita laksanakan dengan kekuatan sendiri. Memang Injil membawa dampak sosial, tetapi moralisme mereduksi Kristus menjadi teladan aktivisme yang harus kita tiru untuk membuktikan iman kita. Nas ini bukan tentang apa yang harus kita lakukan, melainkan tentang siapa Kristus dan apa yang telah Ia lakukan. Kita bukan mesias bagi orang miskin; Kristus-lah Mesias. Tugas kita bukan menggenapi misi melalui usaha, melainkan menerima pembebasan-Nya lebih dahulu, lalu menjadi saksi atas anugerah yang sudah kita terima.

Dalam keluarga, akui lebih dahulu bahwa setiap anggota keluarga adalah "tawanan" yang dibebaskan Kristus, bukan orang baik yang sekadar perlu sedikit perbaikan. Ini mengubah cara kita memperlakukan satu sama lain — dengan belas kasihan, bukan tuntutan. Lalu, biarkan keluarga menjadi perpanjangan belas kasih Kristus: kunjungi yang sakit, bantu tetangga yang berkekurangan, perhatikan anak yang terpinggirkan di sekolah. Ajak anak melihat bahwa kepedulian kepada yang lemah bukan beban moral, melainkan pancaran sukacita orang yang sudah dibebaskan. Tanyakan: siapa "yang terpinggirkan" di sekitar kita yang dapat keluarga kita layani minggu ini?

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Kristus diurapi Roh untuk membebaskan kita dari belenggu dosa.
  2. 2Memohon kesadaran bahwa kita pun adalah tawanan yang telah dibebaskan oleh anugerah.
  3. 3Berdoa agar keluarga menjadi saluran belas kasih Kristus bagi yang terpinggirkan.
  4. 4Mendoakan orang-orang miskin dan tertindas agar mendengar kabar baik keselamatan.

Bahan Renungan

Dari belenggu apa Kristus telah membebaskan keluarga kita, dan bagaimana kita dapat membagikan kabar pembebasan itu kepada orang lain?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda