Kembali

Tabib bagi Orang Berdosa

LukasPanggilan kepada Pertobatan

Ayat Firman

Lukas 5:31-32

Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Konteks

Yesus baru saja memanggil Lewi, seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat, lalu makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa lainnya. Orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena pergaulan ini. Yesus menjawab dengan perumpamaan tabib yang menyingkapkan inti misi-Nya.

Renungan

Yesus menggunakan analogi yang tajam: tabib datang untuk orang sakit, bukan orang sehat. Pernyataan ini muncul ketika para pemimpin agama tersinggung melihat Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Lukas, yang berprofesi sebagai tabib, mencatat dengan cermat metafora medis ini. Inti jawaban Yesus adalah ironi yang menusuk: orang Farisi menganggap diri "sehat" secara rohani, sehingga mereka justru tidak datang kepada Sang Tabib. Sebaliknya, para pemungut cukai sadar mereka "sakit," maka mereka berkumpul di sekeliling Yesus. Misi Kristus dinyatakan secara eksplisit: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Kalimat "orang benar" di sini bersifat ironis — tidak ada satu pun manusia yang benar-benar benar (Roma 3:10). Teologi Reformed menegaskan kerusakan total: seluruh manusia sakit oleh dosa, tanpa kecuali. Perbedaan antara Farisi dan pemungut cukai bukanlah perbedaan antara yang sehat dan yang sakit, melainkan antara yang menyangkal penyakitnya dan yang mengakuinya. Anugerah Allah hanya dapat diterima oleh mereka yang menyadari kebutuhan mereka. Inilah sebabnya Yesus memanggil "orang berdosa" — bukan karena Ia mengabaikan dosa, tetapi karena hanya orang yang mengakui dosanya yang bersedia disembuhkan. Panggilan kepada pertobatan adalah panggilan untuk mengakui penyakit dan datang kepada Tabib.

Bahaya terbesar dalam kehidupan beragama adalah moralisme Farisi: merasa diri cukup baik sehingga tidak membutuhkan Juruselamat. Ironisnya, justru orang yang paling rajin beribadah bisa menjadi yang paling jauh dari anugerah, karena mereka mengandalkan kebenaran diri. Moralisme membuat kita memandang rendah "orang berdosa" lain sambil menutupi penyakit kita sendiri. Tetapi Injil meruntuhkan kesombongan ini: kita semua adalah pasien di rumah sakit yang sama. Tidak ada ruang untuk memandang rendah sesama; yang ada hanyalah sesama pasien yang bersyukur atas kesembuhan dari Sang Tabib yang sama.

Dalam keluarga, ciptakan budaya yang jujur tentang dosa dan kelemahan, bukan budaya pura-pura saleh. Orang tua yang mau mengakui kesalahan di hadapan anak — "Ayah salah tadi, maafkan Ayah" — mengajarkan bahwa rumah ini adalah tempat orang sakit yang disembuhkan, bukan panggung orang benar. Hindari menumbuhkan sikap Farisi pada anak, yaitu membandingkan diri dengan anak lain yang "lebih nakal." Ajarkan bahwa kita semua membutuhkan Tabib yang sama. Ketika ada anggota keluarga yang jatuh dalam dosa, sambut dia seperti Yesus menyambut Lewi — dengan meja yang terbuka, bukan dengan penghakiman yang menutup pintu.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Kristus datang sebagai Tabib bagi orang berdosa seperti kita.
  2. 2Memohon kerendahan hati untuk mengakui penyakit dosa, bukan menyangkalnya.
  3. 3Berdoa agar keluarga dijauhkan dari kesombongan rohani ala orang Farisi.
  4. 4Mendoakan agar rumah kita menjadi tempat yang menyambut orang berdosa yang bertobat.

Bahan Renungan

Dalam hal apa kita cenderung merasa "sehat" dan tidak membutuhkan Tuhan, dan bagaimana mengakui "penyakit" kita membuka jalan bagi anugerah?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda