Kembali

Dibaptis dengan Roh Kudus dan Api

MatiusDibaptis dengan Roh Kudus

Ayat Firman

Matius 3:11-12

Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.

Konteks

Matius 3:11-12 mencatat khotbah Yohanes Pembaptis di tepi Sungai Yordan, kemungkinan di daerah Betabara atau Ainon, sekitar tahun 26-28 M. Yohanes berpakaian dan makan seperti Elia (bulu unta, ikat pinggang kulit, makan belalang dan madu liar — Mat 3:4; 2 Raj 1:8) — simbolisme yang tidak kebetulan bagi pendengar Yahudi yang menanti kedatangan Elia sebelum "hari Tuhan" (Mal 4:5). Ungkapan "tidak layak melepaskan kasut-Nya" mengacu pada hukum Talmud: murid wajib melakukan semua pelayanan untuk guru kecuali melepaskan kasutnya — itu terlalu merendahkan martabat murid. Yohanes merendahkan diri bahkan di bawah tingkatan murid terendah. Gambaran "alat penampi" (πτύον, ptyon) dan "tempat pengirikan" adalah gambaran pertanian musim panas di Palestina: gandum dilempar ke udara agar angin memisahkan butir dari sekam. Ini adalah metafora penghakiman eskatologis yang lazim dalam nubuat Perjanjian Lama (Yes 41:16; Yer 15:7).

Renungan

Yohanes Pembaptis, seorang yang begitu besar sampai Yesus sendiri memujinya, justru menempatkan dirinya serendah mungkin: "Aku tidak layak melepaskan kasut-Nya." Melepaskan kasut adalah tugas budak yang paling rendah, dan Yohanes berkata ia tidak layak bahkan untuk itu. Inilah kerendahan hati sejati di hadapan Kristus. Pak Tong sering menekankan bahwa semakin seseorang sungguh mengenal Kristus, semakin ia merasa kecil. Yohanes tidak rendah diri karena tidak tahu nilainya; ia rendah hati karena ia tahu betapa agung Kristus.

Yohanes membaptis dengan air, suatu tanda lahiriah pertobatan. Tetapi Kristus membaptis dengan Roh Kudus dan api — suatu karya batiniah yang mengubahkan. Air hanya membasuh permukaan; Roh Kudus membersihkan dari dalam. Inilah yang dibutuhkan setiap anggota keluarga kita: bukan sekadar agama lahiriah, ritual yang dikerjakan tanpa hati, melainkan karya Roh Kudus yang sungguh mengubah hati. Banyak orang dibaptis air tetapi belum pernah disentuh oleh api Roh Kudus.

Dan ada peringatan serius dalam gambaran alat penampi. Kristus datang bukan hanya membawa keselamatan, tetapi juga membawa pemisahan. Gandum dikumpulkan ke lumbung, sedangkan debu jerami dibakar. Inilah kedua sisi yang sering kita lupakan: Kristus adalah Juruselamat sekaligus Hakim. Tidak ada jalan tengah, tidak ada netralitas. Setiap orang akhirnya akan terbukti gandum atau jerami. Di akhir tahun ini, gambaran ini menuntut pemeriksaan diri yang jujur dalam keluarga: apakah kita sungguh gandum yang berakar pada Kristus, atau hanya jerami yang ringan ditiup angin tanpa isi? Kiranya Roh Kudus membersihkan kita, supaya kita bukan jerami melainkan gandum yang dikumpulkan ke dalam lumbung-Nya.

Pokok Doa

  1. 1Tuhan Yesus, ajar kami kerendahan hati seperti Yohanes yang merasa tidak layak di hadapan-Mu.
  2. 2Baptislah keluarga kami dengan Roh Kudus dan api-Mu, ubahkan hati kami dari dalam, dan jadikan kami gandum yang sejati di tangan-Mu.
  3. 3Bimbing keluarga kami hidup sesuai kebenaran firman-Mu setiap hari. Amin.

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiaraDoaHimneTokoh
Beranda