Perintah Baru: Saling Mengasihi
Ayat Firman
Yohanes 13:34-35
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Konteks
Yohanes 13:34-35 mengikuti langsung setelah Yudas keluar meninggalkan ruangan makan malam terakhir untuk mengkhianati Yesus (13:30). Kata "baru" (καινή, kainē — bukan νέα, nea) dalam bahasa Yunani berarti "baru secara kualitas" bukan sekadar baru secara waktu — perintah ini merupakan sesuatu yang berbeda secara esensial. Perintah mengasihi sesama sudah ada dalam Imamat 19:18 ("kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri") — yang "baru" adalah ukurannya: "seperti Aku telah mengasihi kamu" (καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς). Kasih Kristus yang mau mati bagi musuh adalah standar baru yang melampaui kasih manusiawi. Kata "tanda pengenal" (ἐν τούτῳ γνώσονται, en toutō gnōsontai — dengan ini mereka akan tahu) menunjukkan bahwa kasih antarsesama murid adalah apologetika hidup yang paling efektif. Dalam konteks dunia Yunani-Romawi abad pertama, kasih seperti ini sangat menonjol: Tertulianus (sekitar 200 M) mengutip orang-orang kafir yang berkata tentang Kristen: "Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi!" sebagai sesuatu yang mengherankan.
Renungan
Perintah untuk mengasihi bukanlah hal baru — Hukum Taurat sudah memerintahkan kasih kepada sesama. Lalu mengapa Yesus menyebutnya "perintah baru"? Yang baru adalah ukurannya: "sama seperti Aku telah mengasihi kamu." Sebelum Kristus, ukuran kasih adalah "kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri." Tetapi Yesus mengangkat ukurannya jauh lebih tinggi: kasihilah seperti Aku mengasihi kamu — yaitu kasih yang rela mengorbankan nyawa, kasih yang melayani sampai membasuh kaki, kasih yang mengampuni bahkan musuh. Pak Tong menekankan bahwa kasih Kristen bukan sekadar perasaan, melainkan kasih yang berkorban mengikuti teladan Kristus sendiri.
Perhatikan bahwa perintah ini diberikan pada malam terakhir sebelum Yesus disalibkan, persis setelah Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia mengajarkan kasih sambil meneladankannya. Kasih yang Ia minta bukan kasih teori, melainkan kasih yang Ia tunjukkan dengan tindakan. Esok harinya, Ia membuktikan kasih itu di kayu salib. Inilah ukuran kasih kita: salib Kristus.
Dan inilah tanda pengenal yang Yesus tetapkan bagi murid-murid-Nya: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." Bukan jubah khusus, bukan pengetahuan teologi, bukan banyaknya aktivitas rohani — tanda pengenal murid Kristus adalah kasih. Kebenaran ini menjadi cermin paling tajam bagi keluarga kita. Di mana kasih ini paling diuji? Di rumah sendiri. Mudah berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengasihi orang yang setiap hari kita lihat kekurangannya — pasangan, anak, orang tua. Justru di rumahlah kasih Kristen pertama-tama harus nyata. Menjelang tahun baru, jika ada satu hal yang harus kita perbaiki, biarlah itu kasih kita satu sama lain. Sebab dunia akan mengenal Kristus bukan dari kata-kata kita, melainkan dari kasih yang nyata di antara kita.
Pokok Doa
- 1Tuhan Yesus, Engkau memerintahkan kami saling mengasihi seperti Engkau mengasihi kami.
- 2Penuhi keluarga kami dengan kasih yang berkorban seperti kasih-Mu.
- 3Jadikan rumah kami tempat di mana kasih-Mu nyata, supaya dunia mengenal kami sebagai murid-Mu.