Banyak Penasihat
Ayat Firman
Amsal 11:12-14
“Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai, berdiam diri. Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara. Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.”
Konteks
Salomo membahas relasi sosial: menghina sesama, membuka rahasia, dan pentingnya banyak penasihat. Hikmat sejati menuntun kita untuk menghormati orang lain dan mencari pertimbangan bersama dengan rendah hati.
Renungan
Salomo dengan cermat merangkai tiga amsal yang semuanya berputar di sekitar tema hidup bersama dalam komunitas dan relasi dengan sesama. Pertama, ia berkata bahwa siapa menghina sesamanya itu tidak berakal budi, sebab tindakan merendahkan dan meremehkan orang lain justru menyingkapkan kebodohan dan kesombongan yang bersarang di dalam hati si penghina sendiri. Kedua, ia menyatakan bahwa orang yang gemar mengumpat dan bergosip itu membuka rahasia orang lain, mengkhianati kepercayaan yang diberikan demi sekadar sensasi dan kepuasan dalam pembicaraan, sementara orang yang setia justru menutupi perkara dan menjaga martabat sesamanya. Ketiga, Salomo memperluas pandangannya hingga ke tingkat bangsa dan negara: tanpa pimpinan dan bimbingan yang bijak, suatu bangsa akan jatuh dan runtuh, tetapi dengan adanya banyak penasihat yang baik, di situ ada keselamatan dan kelangsungan. Benang merah yang menyatukan ketiganya sungguh jelas, yaitu bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian dalam kesombongan dan kemandirian, melainkan untuk hidup dalam komunitas yang saling menghormati dan saling menasihati dengan kasih.
Tradisi Reformed memahami manusia sebagai makhluk yang pada hakikatnya relasional, yang mencerminkan keberadaan Allah Tritunggal, yaitu persekutuan kasih yang kekal dan sempurna antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Karena itulah tindakan menghina sesama dan menyebarkan rahasia orang lain bukanlah sekadar pelanggaran etika sosial yang ringan, melainkan pengingkaran terhadap gambar Allah yang melekat dalam diri orang lain dan juga dalam diri kita sendiri. Penekanan Salomo pada pentingnya banyak penasihat sangat selaras dengan keyakinan Reformed akan prinsip pemerintahan bersama, baik di dalam gereja melalui dewan para penatua yang saling mengimbangi, maupun dalam masyarakat luas, sebab tidak ada satu manusia pun yang sepenuhnya bebas dari kebutaan dan kelemahan akibat dosa. Kerendahan hati untuk sungguh-sungguh mendengar nasihat dari orang lain adalah pengakuan yang jujur akan keterbatasan kita sebagai makhluk yang telah jatuh, sekaligus pengakuan akan ketergantungan kita pada hikmat yang Allah berikan melalui sesama orang percaya di sekitar kita.
Moralisme dapat menyelinap dengan mudah ke dalam pembacaan ayat ini, yaitu dengan menjadikannya sekadar daftar tata krama dan sopan santun: janganlah menghina orang, janganlah bergosip, dan dengarkanlah nasihat orang lain. Tetapi tanpa kuasa Injil yang mengubahkan hati, semua aturan itu hanya akan menjadi topeng kesopanan lahiriah yang menutupi hati yang sebenarnya tetap memandang rendah dan meremehkan orang lain. Akar terdalam dari setiap penghinaan adalah kesombongan yang merasa diri lebih tinggi dan lebih baik daripada sesama, dan kesombongan yang berbahaya itu hanya dapat dipatahkan ketika kita dengan jujur melihat diri kita berdiri di bawah salib Kristus, sama-sama berdosa dan sama-sama membutuhkan anugerah yang cuma-cuma. Ketika kita sungguh memahami dan menghayati bahwa Kristus telah mati bagi sesama kita persis sama seperti Ia mati bagi kita, maka mustahil bagi kita untuk terus menghina dan merendahkan mereka. Kasih yang dengan setia menutupi rahasia bukanlah kepura-puraan yang munafik, melainkan cerminan nyata dari Allah yang menutupi dosa kita dengan kebenaran Kristus.
Dalam kehidupan keluarga, ayat ini mengajarkan kita untuk membangun budaya saling menghormati dan kerendahan hati di antara semua anggota. Apakah para anggota keluarga di rumah kita justru saling merendahkan satu sama lain dengan ejekan dan sindiran tajam, atau saling membangun dan menguatkan dengan kata-kata yang penuh kasih? Apakah rahasia dan kelemahan keluarga dijaga dengan setia di dalam rumah, atau justru diceritakan dan disebarkan ke mana-mana kepada orang luar? Orang tua perlu dengan sengaja menjadikan rumah sebagai tempat yang aman, di mana kelemahan dan kegagalan ditutupi oleh kasih yang melindungi, bukan diumbar dan dipermalukan. Ajarlah anak-anakmu untuk menghargai pendapat orang lain dan untuk selalu mencari nasihat sebelum bertindak, bukan bertindak gegabah dan sembrono seorang diri tanpa pertimbangan. Pemimpin keluarga yang sungguh bijak tidak memerintah seorang diri dengan angkuh dan keras kepala, melainkan dengan rendah hati mendengar pasangannya dan menasihati anak-anaknya dengan kasih, mencerminkan komunitas kasih yang Allah kehendaki.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kebenaran firman Tuhan dalam Amsal 11:12-14 yang menerangi jalan keluarga kami.
- 2Mohon Roh Kudus memperbarui hati kami agar memahami Banyak Penasihat bukan sebagai aturan tetapi sebagai anugerah.
- 3Mohon perlindungan dari kesombongan rohani dan ketergantungan pada kekuatan diri; ajarlah kami bergantung hanya pada anugerah Kristus.
- 4Mohon Tuhan membentuk keluarga kami menjadi saksi kebenaran dan kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan terang-Nya.