Murah Hati yang Dimurahkan
Ayat Firman
Amsal 11:24-25
“Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”
Konteks
Salomo menyatakan sebuah paradoks ilahi: memberi justru membuat seseorang bertambah, sedangkan menahan justru membuatnya berkekurangan. Kemurahan hati adalah jalan menuju kelimpahan dalam ekonomi Kerajaan Allah.
Renungan
Ayat ini menyajikan kepada kita sebuah paradoks yang sungguh menantang dan membalik seluruh logika perhitungan dunia. Secara matematis dan masuk akal, memberi seharusnya mengurangi apa yang kita miliki, dan menahan serta menyimpan seharusnya menambah kekayaan kita. Namun Salomo dengan berani menyatakan kebalikannya yang mengejutkan: ada orang yang menyebar dan membagikan hartanya kepada sesama tetapi justru bertambah kaya, dan ada pula orang yang menghemat secara luar biasa dan kikir namun anehnya selalu berkekurangan dan tidak pernah merasa cukup. Orang yang murah hati, yang dengan sukacita memberi berkat dan memberi minum kepada orang lain yang membutuhkan, justru pada akhirnya akan diberi kelimpahan dan diberi minum oleh Allah. Ini sama sekali bukan rumus investasi finansial yang dingin, melainkan penyingkapan tatanan moral dan rohani yang Allah sendiri tegakkan dan pelihara di dunia ciptaan-Nya. Kemurahan hati yang sejati selalu mengalir dari hati yang sungguh percaya pada pemeliharaan Allah, sehingga ia berani melepaskan dan memberi tanpa rasa takut akan kehabisan.
Dalam terang teologi Reformed, kemurahan hati yang sejati adalah buah yang lahir dari pemahaman yang dalam akan anugerah Allah. Allah kita adalah Pemberi yang agung dan murah hati, yang telah memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita tanpa menahan apa pun yang berharga, padahal kita sama sekali tidak layak menerimanya. Orang yang telah sungguh-sungguh menerima anugerah yang cuma-cuma dan tak ternilai ini akan diubahkan dari dalam menjadi orang yang juga gemar memberi dengan cuma-cuma kepada sesama, sebab ia menyadari sepenuhnya bahwa segala yang dimilikinya hanyalah titipan dari Allah, bukan kepemilikan mutlak yang harus digenggam erat. Doktrin penatalayanan dengan jelas mengajarkan bahwa kita hanyalah para pengelola harta milik Allah, dan tindakan memberi adalah salah satu cara nyata kita mengakui kedaulatan dan kepemilikan-Nya atas segala sesuatu yang ada pada kita. Kelimpahan yang dijanjikan dalam ayat ini bukanlah terutama kelimpahan materi yang fana, melainkan kepenuhan jiwa yang merdeka dari cengkeraman ketamakan, sebuah kekayaan sejati yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Kita harus sungguh berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam moralisme yang bersifat transaksional, yaitu memberi dengan motif terselubung supaya kita mendapat balasan yang jauh lebih banyak. Sikap seperti itu mengubah kemurahan hati yang mulia menjadi keserakahan yang dibungkus rapi dengan jubah kesalehan, persis seperti ajaran Injil kemakmuran yang menjadikan persembahan sekadar sebagai benih investasi untuk memanen keuntungan pribadi yang berlipat ganda. Salomo sama sekali tidak sedang mengajarkan strategi licik untuk memperkaya diri sendiri, melainkan menggambarkan hati yang telah sungguh-sungguh dibebaskan dari belenggu cinta uang dan harta. Pemberian Kristen yang sejati tidak pernah menghitung-hitung balasan atau imbalan, sebab ia lahir murni dari kasih yang tulus, bukan dari perhitungan untung dan rugi yang dingin. Justru ketika kita berhenti menahan dan menimbun demi keamanan diri sendiri dan mulai memberi dengan murah hati demi kemuliaan Allah dan kebaikan sesama, kita menemukan kelimpahan yang sesungguhnya, yaitu sukacita memberi yang menyerupai dan mencerminkan hati Bapa di surga.
Dalam kehidupan keluarga, ayat ini mengajarkan dan melatih anak-anak untuk melawan naluri alamiah mereka untuk menggenggam dan menahan segala sesuatu dengan erat. Dunia di sekitar kita terus-menerus mengajarkan untuk menimbun dan menyimpan demi rasa aman, tetapi firman Tuhan justru mengajarkan untuk membagi dan memberi demi kasih kepada sesama. Orang tua dapat memodelkan kemurahan hati ini secara nyata dengan terbuka menolong sesama yang kesusahan, memberi dengan sukarela kepada mereka yang berkekurangan, dan menerima tamu di rumah dengan sukacita yang tulus, sehingga anak-anak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa memberi mendatangkan sukacita yang besar, bukan kehilangan yang menyedihkan. Latihlah anak-anakmu untuk berbagi sejak usia dini, bukan dengan paksaan dan tekanan, melainkan dengan menunjukkan dan menceritakan betapa Allah telah lebih dahulu berlimpah memberi segala sesuatu kepada kita. Rumah tangga yang murah hati akan menjadi saluran berkat bagi banyak orang, dan dalam mengalirkan berkat itu kepada sesama, rumah itu sendiri justru dipenuhi oleh kelimpahan Allah.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kebenaran firman Tuhan dalam Amsal 11:24-25 yang menerangi jalan keluarga kami.
- 2Mohon Roh Kudus memperbarui hati kami agar memahami Murah Hati yang Dimurahkan bukan sebagai aturan tetapi sebagai anugerah.
- 3Mohon perlindungan dari kesombongan rohani dan ketergantungan pada kekuatan diri; ajarlah kami bergantung hanya pada anugerah Kristus.
- 4Mohon Tuhan membentuk keluarga kami menjadi saksi kebenaran dan kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan terang-Nya.