Mencintai Didikan
Ayat Firman
Amsal 12:1-2
“Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan, tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu. Orang baik dikenan Tuhan, tetapi si penipu dihukum-Nya.”
Konteks
Salomo kembali ke tema didikan, kali ini dengan bahasa yang lebih keras: membenci teguran adalah kedunguan. Lalu ia menegaskan bahwa perkenan Tuhan menjadi ukuran sejati bagi seluruh kehidupan kita.
Renungan
Salomo dengan sengaja menggunakan bahasa yang kuat tentang mencintai dan membenci untuk menggambarkan sikap manusia terhadap didikan. Ia berkata bahwa siapa mencintai didikan, sesungguhnya juga mencintai pengetahuan, sebuah hubungan yang tak terpisahkan dan saling mengikat, sebab pengetahuan yang sejati tidak pernah datang tanpa proses dikoreksi, dibentuk, dan dimurnikan. Namun siapa yang membenci teguran disebutnya dungu, sebuah kata yang sangat keras dan tajam dalam bahasa Ibrani aslinya, bahkan menyiratkan kebodohan seperti binatang yang tidak mampu menalar dan belajar. Mengapa Salomo memakai kata sekeras itu? Karena menolak dan membenci teguran pada hakikatnya berarti memilih untuk tetap tinggal dalam kebutaan dan kegelapan, lebih mencintai kenyamanan ego dan harga diri daripada terang kebenaran yang membebaskan. Lalu Salomo mengangkat pandangan kita kepada ukuran yang tertinggi dan terpenting: orang baik dikenan oleh Tuhan, sedangkan si penipu dihukum-Nya. Pada akhirnya, perkenan Allah, dan bukan penilaian atau pujian manusia, itulah standar yang sejati dan kekal.
Tradisi Reformed dengan tegas menekankan bahwa hati manusia yang sungguh dapat diajar dan dikoreksi adalah tanda nyata dari karya anugerah Allah, sebab secara alamiah manusia yang berdosa selalu memberontak dan menolak kebenaran yang menelanjangi serta membongkar dosanya. Mencintai teguran sama sekali bukanlah kecenderungan alamiah dalam diri kita, melainkan buah yang lahir dari kelahiran kembali yang melembutkan hati yang tadinya keras seperti batu. Lebih jauh lagi, frasa orang baik dikenan Tuhan harus kita pahami dengan benar dalam terang doktrin pembenaran oleh iman. Tidak ada satu manusia pun yang baik dengan sendirinya berdasarkan usahanya, sebab semua orang tanpa kecuali telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah; perkenan Allah yang kita peroleh bukanlah karena kebaikan dan jasa kita, melainkan semata-mata karena kebaikan dan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada kita melalui iman. Orang yang dikenan Allah adalah orang yang berada di dalam Kristus, dan dari persekutuan yang hidup dengan-Nya itulah lahir kasih yang tulus akan didikan dan kerinduan untuk terus dibentuk.
Moralisme akan dengan mudah membaca ayat ini sebagai sebuah dorongan dan tuntutan, yaitu jadilah orang yang baik dan terimalah setiap kritik supaya Tuhan berkenan dan senang kepadamu. Tetapi pembacaan seperti itu sesungguhnya membalik urutan Injil dan menjadikan perkenan Allah sebagai semacam upah yang harus kita peroleh atas usaha dan kebaikan kita sendiri. Kabar baik Injil justru terbalik dari logika itu: karena Allah telah lebih dahulu berkenan kepada kita di dalam Kristus tanpa syarat, kita kini dimampukan dan dibebaskan untuk mencintai didikan tanpa rasa terancam dan ketakutan. Identitas dan nilai diri kita telah aman dan kokoh di dalam Kristus, sehingga teguran tidak lagi menghancurkan dan meruntuhkan kita, melainkan justru menumbuhkan dan mendewasakan kita. Orang yang membenci teguran sering kali adalah orang yang seluruh identitasnya bergantung pada citra diri yang sempurna dan tanpa cela, sehingga setiap teguran terasa mengancam citra itu. Tetapi orang yang sungguh beristirahat dalam anugerah dapat menerima koreksi dengan damai dan tenang, sebab penerimaannya oleh Allah tidak lagi bergantung pada kesempurnaan dirinya.
Dalam kehidupan keluarga, sikap terhadap teguran adalah sesuatu yang sangat menular dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak belajar untuk mencintai atau justru membenci didikan terutama dari mengamati bagaimana orang tua mereka sendiri menanggapi koreksi yang datang. Orang tua yang tidak pernah mau ditegur dan dikoreksi, yang selalu membela diri dan mencari pembenaran, sesungguhnya sedang menanamkan kedunguan yang sama persis pada anak-anak mereka. Sebaliknya, orang tua yang dengan rendah hati berani berkata maaf, saya keliru dan salah, sedang menanamkan kasih yang sehat akan kebenaran dalam hati anak. Ciptakanlah sebuah rumah di mana teguran disampaikan dengan kasih yang tulus dan diterima dengan syukur, di mana mengakui kesalahan dipandang sebagai tanda keberanian dan kekuatan, bukan sebagai kekalahan yang memalukan. Keluarga yang sungguh mencintai didikan adalah keluarga yang sedang bertumbuh bersama menuju perkenan Tuhan yang berharga.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas kebenaran firman Tuhan dalam Amsal 12:1-2 yang menerangi jalan keluarga kami.
- 2Mohon Roh Kudus memperbarui hati kami agar memahami Mencintai Didikan bukan sebagai aturan tetapi sebagai anugerah.
- 3Mohon perlindungan dari kesombongan rohani dan ketergantungan pada kekuatan diri; ajarlah kami bergantung hanya pada anugerah Kristus.
- 4Mohon Tuhan membentuk keluarga kami menjadi saksi kebenaran dan kasih-Nya di tengah dunia yang membutuhkan terang-Nya.