Kesombongan yang Menimbulkan Pertengkaran
Ayat Firman
Amsal 13:10-12
“Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi hikmat ada pada orang yang mau mendengar nasihat. Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya. Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.”
Konteks
Bagian ini menempatkan keangkuhan sebagai akar pertengkaran dan kerendahan hati sebagai dasar untuk menerima nasihat. Ayat berikutnya beralih ke pengelolaan harta yang sabar dan kerinduan hati manusia. Salomo menghubungkan sikap batin dengan akibat sosial dan emosional yang nyata.
Renungan
Perhatikan diagnosis tajam yang diberikan Salomo: "Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran." Ia tidak berkata bahwa keangkuhan kadang-kadang menimbulkan pertengkaran, melainkan bahwa di balik setiap pertengkaran terdapat keangkuhan. Akar dari konflik bukanlah perbedaan pendapat semata, melainkan hati yang menolak untuk tunduk, hati yang harus selalu menang, harus selalu benar, harus selalu dihormati. Lawan dari keangkuhan ini adalah "orang yang mau mendengar nasihat" — orang yang cukup rendah hati untuk mengakui bahwa ia tidak tahu segalanya. Lalu Salomo menambahkan dua amsal tentang harta dan harapan. Harta yang cepat diperoleh cepat hilang, tetapi yang dikumpulkan dengan sabar bertahan. Dan harapan yang tertunda menyedihkan hati. Ada benang merah: hikmat menuntut kerendahan hati dan kesabaran, sedangkan keangkuhan menuntut segalanya sekarang juga, dengan cara saya, atas nama saya.
Keangkuhan adalah dosa pertama dan dosa terdalam. Iblis jatuh karena keangkuhan; Adam jatuh karena ingin menjadi seperti Allah. Inilah inti dari total depravity — bukan sekadar bahwa kita berbuat salah, melainkan bahwa hati kita secara fundamental ingin menggeser Allah dari takhta-Nya dan mendudukkan diri kita di sana. Kedaulatan Allah adalah obat satu-satunya bagi penyakit ini. Ketika kita melihat bahwa Allah adalah Allah dan kita bukan, ketika kita melihat bahwa Ia yang menentukan dan kita yang bergantung, maka keangkuhan kita hancur. Orang yang sungguh mengenal Allah yang berdaulat tidak akan menjadi orang yang harus selalu menang dalam setiap perdebatan rumah tangga. Kesabaran dalam mengumpulkan harta sedikit demi sedikit pun adalah pengakuan bahwa kita bukan tuan atas waktu, bahwa berkat datang dari tangan Allah menurut waktu-Nya, bukan tuntutan kita.
Namun jangan jatuh ke dalam moralisme yang berkata, "Aku harus merendahkan diri supaya tidak ada pertengkaran dan supaya Allah memberkati hartaku." Kerendahan hati bukanlah teknik untuk hidup yang lebih lancar. Kerendahan hati yang sejati hanya lahir dari salib. Pandanglah Kristus, yang "walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya." Dialah Allah yang merendahkan diri sampai mati. Kita tidak dapat memproduksi kerendahan hati dengan kemauan keras; kita hanya menerimanya ketika kita berdiri di kaki salib dan melihat bahwa Sang Raja telah merendahkan diri demi pemberontak seperti kita. Kerendahan hati adalah respons terhadap anugerah, bukan strategi untuk meraih perkenanan.
Maka periksalah pertengkaran-pertengkaran di rumah Anda. Di balik nada suara yang meninggi, di balik keinginan untuk mendapat kata terakhir, di balik penolakan untuk minta maaf — di sanalah keangkuhan bersembunyi. Suami dan istri, anak dan orang tua: tanyakanlah dengan jujur, "Apakah aku bertengkar demi kebenaran, atau demi egoku?" Latihlah rumah tangga untuk mendengar nasihat — minta pendapat anak, terima masukan pasangan, akui kesalahan di depan keluarga. Ajarlah anak-anak kesabaran dalam menabung dan menunggu, melawan budaya yang menuntut segalanya instan. Dan ketika harapan tertunda dan hati menjadi sedih, arahkan keluarga kepada Pohon Kehidupan yang sejati, Kristus sendiri, yang di dalam-Nya tidak ada harapan yang akan dipermalukan.
Pokok Doa
- 1Bersyukur atas Kristus yang merendahkan diri-Nya dan menjadi sumber kerendahan hati kita.
- 2Memohon agar Allah menyingkapkan keangkuhan tersembunyi yang menjadi akar pertengkaran di rumah.
- 3Berdoa agar keluarga belajar kesabaran dan kepercayaan pada waktu Tuhan.
- 4Mendoakan hati yang sedih karena harapan tertunda agar berlabuh pada Kristus.
Bahan Renungan
Dalam pertengkaran terakhir di rumah, di mana letak keangkuhan yang sebenarnya menjadi akarnya?