Kembali

Rencana Berhasil dengan Banyak Penasihat

AmsalHikmat dalam Mencari Nasihat

Ayat Firman

Amsal 15:22-23

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak. Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!

Konteks

Ayat-ayat ini mengajarkan nilai mencari nasihat dalam membuat rencana dan keindahan perkataan yang tepat waktu. "Penasihat banyak" mencerminkan kerendahan hati untuk tidak mengandalkan pemahaman sendiri. Salomo juga merayakan sukacita dari perkataan yang diucapkan pada saat yang tepat.

Renungan

Perhatikan diagnosis Salomo tentang mengapa rencana gagal: "Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan." Bukan karena kurang bakat atau kurang usaha, melainkan karena seseorang mengandalkan pemahamannya sendiri tanpa mencari nasihat. Sebaliknya, rencana "terlaksana kalau penasihat banyak." Salomo mengajarkan bahwa hikmat tidak terisolasi dalam satu kepala, melainkan ditemukan dalam komunitas, dalam kerelaan untuk mendengar perspektif orang lain. Lalu ia menambahkan keindahan "perkataan yang tepat pada waktunya" — bukan hanya perkataan yang benar, tetapi yang diucapkan pada saat yang tepat. Ada sukacita dalam memberi jawaban yang tepat, dan ada keindahan dalam perkataan yang datang pada momen yang dibutuhkan. Salomo sedang menghubungkan kerendahan hati untuk mencari nasihat dengan hikmat untuk memberi nasihat — dua sisi dari kehidupan dalam komunitas hikmat.

Di balik amsal ini terdapat pengakuan akan keterbatasan manusia dan kerendahan hati yang dituntut oleh kedaulatan Allah. Mengapa kita perlu banyak penasihat? Karena tidak seorang pun dari kita memiliki pandangan yang menyeluruh; hanya Allah yang melihat segala sesuatu. Total depravity tidak hanya merusak kehendak kita, tetapi juga membutakan akal budi kita terhadap titik-titik buta kita sendiri. Kita cenderung melihat hanya apa yang ingin kita lihat, membenarkan apa yang sudah kita putuskan. Maka mencari nasihat adalah tindakan kerendahan hati yang mengakui, "Aku tidak melihat segalanya; aku membutuhkan terang dari luar diriku." Allah dalam kedaulatan-Nya sering memakai sesama — pasangan, orang tua, sahabat seiman, gembala — sebagai sarana untuk menyalurkan hikmat-Nya. Menolak nasihat adalah bentuk keangkuhan yang menempatkan penilaian sendiri di atas segalanya, seakan-akan kita adalah satu-satunya sumber kebijaksanaan.

Namun jangan jadikan pencarian nasihat sebagai formula moralistik yang menjamin keberhasilan, seakan-akan "jika aku cukup banyak bertanya, maka rencanaku pasti berhasil dan Allah pasti memberkati." Sebab pada akhirnya, bahkan dengan penasihat terbaik sekalipun, "banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." Mencari nasihat bukanlah cara mengendalikan hasil atau memaksa tangan Allah, melainkan tindakan kerendahan hati yang menyerahkan diri pada hikmat di luar diri kita, dan akhirnya pada kedaulatan Allah. Dan ingatlah, Penasihat yang terbesar telah diberikan kepada kita: Kristus disebut "Penasihat Ajaib," dan Roh Kudus disebut "Penghibur" — kata yang juga berarti Penasihat. Kita tidak ditinggalkan sendiri untuk meraba dalam kegelapan; kita memiliki firman Allah dan Roh Allah sebagai penuntun utama. Maka mencari nasihat manusiawi harus selalu tunduk pada nasihat ilahi, dan kita mencarinya bukan untuk membeli keberhasilan, melainkan sebagai respons dari hati yang rendah hati di hadapan Allah.

Dalam keluarga, prinsip ini menuntut budaya keterbukaan dan kerendahan hati. Orang tua, jangan mengira bahwa otoritas Anda berarti Anda tidak perlu nasihat. Justru pemimpin yang bijak adalah yang mau mendengar — mendengar pasangan, bahkan mendengar anak-anak, dan mencari nasihat dari orang yang lebih dewasa secara rohani. Tunjukkan kepada anak-anak bahwa mencari nasihat bukan tanda kelemahan, melainkan tanda hikmat. Sebelum membuat keputusan besar keluarga — pindah rumah, pekerjaan, pendidikan anak — libatkanlah doa, firman, dan nasihat orang-orang bijak. Ajarkan juga keindahan "perkataan yang tepat pada waktunya": melatih anak untuk berbicara membangun pada saat yang tepat, menghibur yang berduka, menegur dengan kasih. Jadikan rumah tempat di mana setiap orang merasa aman untuk meminta dan memberi nasihat. Dan di atas segalanya, ajarkan keluarga untuk membawa setiap rancangan kepada Allah, sang Penasihat Ajaib, mengakui bahwa keputusan-Nya yang akhirnya terlaksana. Berdoalah agar Allah mengelilingi keluarga Anda dengan penasihat yang takut akan Dia.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas Kristus, Penasihat Ajaib, dan Roh Kudus yang menuntun kita.
  2. 2Memohon kerendahan hati untuk mencari nasihat dan tidak mengandalkan pemahaman sendiri.
  3. 3Berdoa agar Allah mengelilingi keluarga dengan penasihat yang takut akan Tuhan.
  4. 4Mendoakan agar setiap anggota keluarga belajar mengucapkan perkataan yang tepat pada waktunya.

Bahan Renungan

Keputusan besar apa yang sedang keluarga kita hadapi, dan kepada siapa kita dapat meminta nasihat yang bijak?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda