Sahabat dan Saudara untuk Masa Kesesakan
Ayat Firman
Amsal 17:17
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
Konteks
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran, demikian Amsal 17:17. Salomo menyatukan dua bentuk relasi yang dalam: persahabatan dan persaudaraan.
Renungan
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran, demikian Amsal 17:17. Salomo menyatukan dua bentuk relasi yang dalam: persahabatan dan persaudaraan. Sahabat sejati mengasihi setiap waktu, bukan hanya ketika menyenangkan, bukan hanya ketika menguntungkan, melainkan dalam kesetiaan yang tak bergantung pada suasana. Dan saudara sejati justru dilahirkan, atau menunjukkan jati dirinya, pada masa kesesakan. Banyak orang dapat hadir di masa pesta; hanya sedikit yang tinggal di masa air mata. Kasih yang dilukiskan di sini bukan emosi yang naik turun, melainkan komitmen yang teguh, yang dalam bahasa perjanjian Alkitab disebut hesed, kasih setia yang tidak goyah. Di balik gambaran ini berdiri Allah sendiri, yang adalah sumber segala kasih setia. Manusia mampu mengasihi dengan setia hanya karena terlebih dahulu telah dikasihi dengan setia oleh Allah. Persahabatan dan persaudaraan sejati, dengan demikian, adalah pantulan dari karakter Allah yang setia kepada umat-Nya dalam segala musim kehidupan.
Kita harus mengangkat pandangan ke atas, sebab ayat ini menunjuk melampaui relasi manusia kepada Sahabat dan Saudara yang sempurna. Tidak ada manusia yang mampu mengasihi setiap waktu dengan sempurna; bahkan sahabat terbaik pun mengecewakan, dan saudara terdekat pun bisa absen di saat kita paling membutuhkan. Hanya satu Pribadi yang menggenapi ayat ini secara mutlak. Yesus Kristus menyebut murid-murid-Nya sahabat dalam Yohanes 15:13-15 dan tidak malu menyebut kita saudara menurut Ibrani 2:11. Dialah yang menaruh kasih setiap waktu, bahkan ketika kita tidak setia. Dialah Saudara yang dilahirkan untuk masa kesesakan kita yang terbesar, yang turun ke dalam kegelapan dosa dan maut untuk menanggung kesesakan kita di kayu salib. Pembacaan moralistik hanya menjadikan ayat ini imbauan agar kita menjadi teman yang baik; Injil menunjukkan lebih dulu Sahabat yang telah baik kepada kita sampai mati.
Keluarga, rumah seharusnya menjadi tempat pertama di mana persahabatan dan persaudaraan sejati ini dipelajari dan dipraktikkan. Apakah saudara-saudara di rumah ini hadir satu bagi yang lain di masa kesesakan, atau hanya berbagi tawa di masa senang? Ajarlah anak-anak untuk setia kepada saudara mereka, untuk tidak meninggalkan satu sama lain ketika ada yang gagal, sakit, atau jatuh. Jadikan rumah ini latihan kasih setia, cerminan kecil dari hesed Allah. Dan arahkan setiap hati kepada Kristus, Sahabat dan Saudara yang sempurna. Berdoalah agar keluarga ini berakar dalam kasih setia-Nya, sehingga kita sanggup mengasihi satu sama lain setiap waktu, terutama saat masa kesesakan datang mengetuk pintu.
Pokok Doa
- 1Tuhan, ajar kami mengasihi satu sama lain setiap waktu, bukan hanya di masa senang.
- 2Terima kasih atas Kristus, Sahabat dan Saudara sejati yang setia sampai mati.
- 3Jadikan rumah kami latihan kasih setia yang mencerminkan hesed-Mu.