Menahan Perkataan, Tanda Pengetahuan
Ayat Firman
Amsal 17:27-28
“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.”
Konteks
Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin, demikian Amsal 17:27. Salomo menghubungkan pengetahuan sejati dengan penguasaan lidah.
Renungan
Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin, demikian Amsal 17:27. Salomo menghubungkan pengetahuan sejati dengan penguasaan lidah. Bukan banyaknya kata yang menandai orang berhikmat, melainkan kemampuannya menahan kata. Di dunia yang menghargai orang yang cepat bicara, lantang berpendapat, dan selalu punya jawaban, Firman justru meninggikan keheningan yang bijak. Mengapa? Karena lidah yang terkendali adalah cermin hati yang terkendali. Orang yang berkepala dingin, yang tenang rohnya, tidak terburu-buru menumpahkan setiap pikiran dan emosi. Ia menimbang sebelum berkata. Dalam pandangan Alkitab, penguasaan lidah adalah salah satu tanda kedewasaan rohani yang paling sulit dicapai; Yakobus bahkan menyebut bahwa orang yang sanggup mengekang lidahnya adalah orang yang sempurna dalam Yakobus 3:2. Menahan perkataan bukan berarti pengecut atau tidak punya pendirian, melainkan disiplin rohani untuk berbicara pada waktu yang tepat, dengan kata yang tepat, demi tujuan yang membangun dan memuliakan Allah.
Ayat 28 menambahkan dengan nada hampir jenaka namun sangat dalam: juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya. Salomo seakan berkata bahwa diam itu begitu berharga sehingga bahkan orang bodoh pun terlihat bijak jika ia tutup mulut. Sebaliknya, kebodohan paling cepat terbongkar lewat banyaknya bicara. Ini bukan ajakan untuk berpura-pura bijak dengan diam, melainkan peringatan tentang betapa banyak kebodohan yang kita tumpahkan lewat kata-kata yang tidak perlu. Kita harus menolak pembacaan yang dangkal, seakan ini sekadar tips komunikasi agar terlihat pintar. Akar persoalannya lebih dalam: lidah yang tak terkendali mengungkapkan hati yang belum tunduk kepada Allah. Hanya hati yang ditenangkan oleh anugerah yang menghasilkan lidah yang tenang. Kita tidak dapat mengendalikan lidah dengan tekad belaka; kita memerlukan hati baru yang dikerjakan Roh Kudus.
Keluarga, betapa banyak luka di rumah tangga lahir dari kata-kata yang seharusnya tidak pernah diucapkan. Dalam panasnya emosi, kita menumpahkan tuduhan, sindiran, dan keluhan yang kemudian kita sesali. Ajaklah keluarga belajar seni menahan perkataan. Latihlah jeda sebelum menanggapi, terutama saat marah. Ajarlah anak-anak bahwa diam pada saat yang tepat adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan, dan bahwa tidak setiap pikiran perlu diucapkan. Jadikan rumah ini tempat di mana orang mendengar lebih banyak daripada berbicara. Berdoalah agar Tuhan memberi setiap anggota keluarga roh yang tenang dan lidah yang terkendali, sehingga perkataan kita menjadi sedikit namun berbobot, dan keheningan kita pun memuliakan Dia.
Pokok Doa
- 1Tuhan, beri kami roh yang tenang dan lidah yang terkendali di tengah panasnya emosi.
- 2Ajar kami menimbang perkataan sebelum mengucapkannya.
- 3Baharui hati kami, sebab dari hati yang tunduk lahir lidah yang tenang.