Kuasa Lidah dan Karunia Seorang Istri
Ayat Firman
Amsal 18:21-22
“Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggunakannya, akan memakan buahnya. Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan.”
Konteks
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggunakannya, akan memakan buahnya, demikian Amsal 18:21. Salomo menempatkan lidah sebagai instrumen yang memegang kuasa hidup dan mati.
Renungan
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggunakannya, akan memakan buahnya, demikian Amsal 18:21. Salomo menempatkan lidah sebagai instrumen yang memegang kuasa hidup dan mati. Ini bukan ungkapan berlebihan. Dengan kata-kata, seseorang dapat membangkitkan harapan atau membunuh semangat; dapat menyatukan atau memecah belah; dapat memberitakan kabar keselamatan atau menyebarkan dusta yang membinasakan. Akar kuasa ini kembali pada penciptaan: Allah menjadikan dunia dengan berfirman, dan manusia sebagai gambar-Nya mewarisi kuasa kata dalam skala terbatas. Maka lidah bukanlah anggota tubuh yang netral; ia adalah pedang bermata dua yang dapat menyembuhkan atau melukai. Salomo menambahkan bahwa kita akan memakan buahnya, perkataan kita kembali kepada kita sebagai panen, baik berupa berkat maupun kerusakan. Dalam terang Injil, kita ingat bahwa kata terbesar yang membawa hidup adalah Firman yang menjadi manusia, Kristus sendiri, yang dari mulut-Nya keluar perkataan hidup yang kekal. Lidah yang ditebus dipanggil menjadi saluran kata-kata yang membawa kehidupan, mencerminkan Sang Firman itu.
Ayat 22 beralih pada anugerah pernikahan: siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan. Perhatikan bahwa istri yang baik bukan disebut sebagai pencapaian atau hasil keberuntungan, melainkan sebagai perkenanan Tuhan, sebuah karunia anugerah. Pernikahan bukan sekadar kontrak sosial atau pemenuhan kebutuhan, melainkan pemberian Allah yang baik, lembaga yang Ia tetapkan sejak Taman Eden. Kita harus menolak dua kesesatan. Yang pertama, pandangan dunia yang merendahkan pernikahan menjadi sekadar pengaturan praktis yang bisa dibongkar pasang. Yang kedua, pandangan moralistik yang menjadikan istri yang baik sebagai upah atas kesalehan suami. Tidak; istri yang baik adalah karunia, bukan upah. Segala yang baik dalam hidup, termasuk pasangan hidup, mengalir dari kemurahan Allah, bukan dari jasa kita yang layak menuntut imbalan.
Keluarga, satukanlah kedua kebenaran ini, sebab keduanya bertemu di rumah tangga. Pernikahan yang merupakan karunia Allah itu dapat dibangun atau dirobohkan oleh lidah. Berapa banyak pernikahan, karunia yang indah itu, hancur perlahan oleh kata-kata yang melukai dari hari ke hari? Suami-istri, jagalah lidah kalian terhadap satu sama lain; gunakanlah kata-kata yang membawa hidup, bukan kematian, ke dalam hati pasangan. Syukurilah pasangan sebagai pemberian Tuhan, bukan sebagai sesuatu yang sudah sepatutnya kita miliki. Ajarlah anak-anak melihat pernikahan orang tua mereka sebagai gambaran kasih karunia Allah. Berdoalah agar keluarga ini dipenuhi perkataan yang membawa kehidupan, dan agar setiap anggota keluarga menghargai karunia-karunia Tuhan dengan hati yang bersyukur.
Pokok Doa
- 1Tuhan, jagalah lidah kami agar membawa kehidupan, bukan kematian, ke dalam rumah.
- 2Ajar suami-istri menghargai pasangan sebagai karunia anugerah dari-Mu.
- 3Penuhi keluarga kami dengan perkataan yang membangun dan hati yang bersyukur.