Kembali

Kemiskinan yang Jujur dan Kebodohan yang Menyalahkan Tuhan

AmsalKemiskinan yang Jujur dan

Ayat Firman

Amsal 19:1-3

Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal. Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu hatinya mengamuk terhadap Tuhan.

Konteks

Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal, demikian Amsal 19:1. Salomo kembali membalik tata nilai dunia.

Renungan

Lebih baik seorang miskin yang bersih kelakuannya daripada seorang yang serong bibirnya lagi bebal, demikian Amsal 19:1. Salomo kembali membalik tata nilai dunia. Dunia berkata bahwa orang kaya yang licik lebih baik daripada orang miskin yang lurus, sebab dunia mengukur manusia dari apa yang mereka miliki. Tetapi Firman mengukur manusia dari integritas hati. Kemiskinan yang dijalani dengan kejujuran lebih mulia di mata Allah daripada kelimpahan yang diperoleh lewat tipu daya. Mengapa? Karena integritas adalah kekayaan rohani yang sejati, sedangkan kebebalan yang berbibir serong adalah kemiskinan jiwa yang sesungguhnya, betapa pun tebal dompetnya. Di sini Alkitab menanamkan dasar yang penting: nilai seseorang tidak terletak pada status ekonominya melainkan pada hubungannya dengan kebenaran. Kita harus berhati-hati agar tidak menukar timbangan Allah dengan timbangan dunia, yang menimbang manusia dengan harta dan menutup mata terhadap karakter.

Ayat 2 dan 3 memperdalam diagnosis tentang hati manusia berdosa: tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah. Kebodohan menyesatkan jalan orang, lalu hatinya mengamuk terhadap Tuhan. Inilah pengamatan yang sangat tajam tentang psikologi dosa. Manusia membuat keputusan bodoh karena ketergesaan dan kurangnya pengenalan akan Allah; jalannya pun tersesat sebagai akibat wajar dari kebodohannya sendiri. Namun apa reaksi hatinya? Bukan pertobatan, melainkan kemarahan kepada Tuhan. Manusia menyalahkan Allah atas kehancuran yang ia timbulkan sendiri. Di sinilah Firman membongkar inti pemberontakan manusia: kita berbuat dosa, menuai akibatnya, lalu menuding Allah sebagai penyebabnya. Moralisme tidak mampu menyentuh akar ini, sebab ia hanya memperbaiki perilaku luar. Hanya Injil yang membongkar kesombongan hati yang menolak bertanggung jawab dan justru menyalahkan Penciptanya.

Keluarga, ayat-ayat ini menantang kita pada dua sisi. Pertama, ajarlah anak-anak menghargai integritas di atas kekayaan. Tunjukkan bahwa lebih baik miskin dengan tangan bersih daripada kaya dengan hati serong, dan teladankan kejujuran dalam hal-hal kecil di rumah. Kedua, lawanlah kebiasaan menyalahkan, yang begitu mudah berakar dalam keluarga. Ketika anak gagal atau ketika rencana kita berantakan akibat keputusan yang kurang bijak, tahanlah diri dari menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan Tuhan. Latihlah keluarga untuk jujur mengakui kesalahan sendiri dan bertobat. Berdoalah agar Tuhan memberi keluarga ini hikmat untuk tidak tergesa-gesa, integritas untuk hidup jujur, dan kerendahan hati untuk bertanggung jawab atas kesalahan kita sendiri tanpa pernah mengarahkan tuduhan kepada Allah yang Mahabaik.

Pokok Doa

  1. 1Tuhan, ajar kami menghargai integritas lebih daripada kekayaan yang diperoleh dengan tipu daya.
  2. 2Lepaskan kami dari kebiasaan menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan Engkau.
  3. 3Beri kami kerendahan hati untuk mengakui kesalahan dan bertobat dengan jujur.

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda