Warisan Leluhur dan Karunia dari Tuhan
Ayat Firman
Amsal 19:14
“Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan.”
Konteks
Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan, demikian Amsal 19:14. Dalam satu ayat, Salomo membedakan dua jenis pemberian dengan sangat halus.
Renungan
Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan, demikian Amsal 19:14. Dalam satu ayat, Salomo membedakan dua jenis pemberian dengan sangat halus. Rumah dan harta dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya; ayah dapat mewariskan tanah, bangunan, dan uang kepada anaknya. Pemberian-pemberian ini nyata dan berharga. Namun ada satu hal yang tidak dapat diwariskan oleh tangan manusia: istri yang berakal budi. Pasangan hidup yang bijaksana, yang takut akan Tuhan, tidak dapat dibeli, diwariskan, atau diatur oleh kuasa manusia. Ia adalah karunia Tuhan, pemberian yang turun langsung dari tangan Allah. Inilah pelajaran tentang providensia Allah dalam hal-hal yang paling pribadi dalam hidup kita. Hal-hal yang paling berharga justru adalah hal-hal yang paling di luar kendali kita dan paling bergantung pada anugerah Allah. Manusia dapat mengatur harta benda, tetapi karakter dan hikmat seorang pasangan adalah karya Allah yang harus diterima dengan syukur sebagai pemberian, bukan sebagai hak.
Kita harus merenungkan implikasi teologis dari perbedaan ini. Mengapa Salomo menyebut istri yang berakal budi sebagai karunia khusus dari Tuhan, dan bukan sekadar warisan? Karena hikmat dan akal budi adalah buah rohani yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah dalam hati seseorang. Orang tua dapat mengusahakan banyak hal bagi anaknya, tetapi mereka tidak dapat menciptakan hati yang bijak dalam diri seorang menantu. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Maka ayat ini mengajar kita kerendahan hati. Pembacaan moralistik mungkin berkata, carilah dan dapatkanlah pasangan yang baik melalui usahamu sendiri. Tetapi Firman menempatkannya dalam terang anugerah: pasangan yang berhikmat adalah pemberian, bukan hasil prestasi. Sikap yang benar bukanlah kebanggaan atas pilihan yang tepat, melainkan syukur atas kemurahan Allah yang memberi.
Keluarga, ayat ini mengajar kita seni bersyukur. Bagi suami-istri, pandanglah pasangan sebagai karunia Tuhan, bukan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Betapa mudahnya kita menerima begitu saja kehadiran pasangan yang bijak, lupa bahwa ia adalah pemberian Allah yang istimewa. Ucapkanlah syukur untuk pasangan, dan perlakukan dia sebagai karunia berharga, bukan sebagai harta milik. Bagi yang masih melajang, terutama anak-anak yang beranjak dewasa, ajarlah mereka untuk mendoakan pasangan masa depan, memohon karunia dari Tuhan, bukan sekadar mengejar dengan kekuatan sendiri. Berdoalah agar keluarga ini belajar menerima setiap berkat, terutama berkat relasi, dari tangan Allah dengan hati yang bersyukur, mengakui bahwa setiap pemberian yang baik dan sempurna datang dari atas, dari Bapa segala terang.
Pokok Doa
- 1Tuhan, ajar suami-istri kami memandang pasangan sebagai karunia istimewa dari tangan-Mu.
- 2Tolong anak-anak kami mendoakan pasangan masa depan dengan iman, bukan sekadar usaha sendiri.
- 3Beri keluarga kami hati yang bersyukur atas setiap pemberian baik yang datang dari-Mu.