Memberi Pinjaman kepada Tuhan
Ayat Firman
Amsal 19:17
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.”
Konteks
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu, demikian Amsal 19:17. Inilah salah satu ayat paling menakjubkan tentang kemurahan hati dalam seluruh Kitab Suci.
Renungan
Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu, demikian Amsal 19:17. Inilah salah satu ayat paling menakjubkan tentang kemurahan hati dalam seluruh Kitab Suci. Salomo menggambarkan tindakan menolong orang miskin sebagai memberi pinjaman kepada Tuhan. Bayangkan kedahsyatan pernyataan ini: Allah Yang Mahakuasa, pemilik segala sesuatu, sang Pencipta langit dan bumi, menempatkan diri-Nya sebagai pihak yang berutang ketika kita berbelas kasihan kepada yang lemah. Ketika kita memberi kepada orang miskin, seolah-olah kita menyerahkan pemberian itu langsung ke tangan Allah, dan Ia mencatatnya sebagai utang yang pasti akan Ia bayar kembali. Yesus menegaskan kebenaran ini dalam Matius 25: segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Allah begitu menyatukan diri-Nya dengan orang yang menderita, sehingga belas kasihan kepada mereka adalah pelayanan kepada Dia sendiri. Sungguh, tidak ada investasi yang lebih aman daripada memberi kepada yang lemah, sebab penjaminnya adalah Allah sendiri.
Kita harus menjaga ayat ini dari penyelewengan yang halus. Janji bahwa Tuhan akan membalas mudah disalahgunakan menjadi semacam transaksi: memberi kepada orang miskin demi mendapat balasan materi dari Tuhan, sebuah injil kemakmuran yang menjadikan kemurahan hati sebagai mesin keuntungan. Ini adalah pemutarbalikan yang menyedihkan. Belas kasihan sejati tidak lahir dari perhitungan untung-rugi, melainkan dari hati yang telah menerima belas kasihan Allah terlebih dahulu. Kita memberi karena kita telah diberi; kita berbelas kasihan karena Allah telah berbelas kasihan kepada kita yang miskin secara rohani melalui Kristus. Motivasinya adalah kasih yang melimpah keluar, bukan keserakahan yang terselubung. Memang Tuhan pasti membalas, namun balasan itu adalah anugerah-Nya, bukan hak yang kita peras melalui sedekah yang penuh pamrih. Inilah perbedaan antara kemurahan Injil dan kalkulasi moralisme.
Keluarga, bagaimana kita mendidik anak-anak kita memandang orang miskin dan yang membutuhkan? Apakah mereka melihat orang tua yang murah hati, atau yang menggenggam erat segala sesuatu? Jadikan kemurahan hati sebagai kebiasaan nyata dalam rumah ini. Libatkan anak-anak dalam tindakan memberi, agar mereka belajar sejak kecil bahwa berbelas kasihan kepada yang lemah adalah melayani Tuhan sendiri. Ajarlah mereka memberi tanpa pamrih, bukan untuk mendapat balasan, melainkan karena kita telah lebih dahulu menerima kasih karunia yang tak terhingga. Berdoalah agar Tuhan melembutkan hati setiap anggota keluarga terhadap penderitaan sesama, dan menjadikan rumah ini sumber berkat bagi yang lemah, sebuah keluarga yang dengan sukacita memberi pinjaman kepada Tuhan yang setia membalas.
Pokok Doa
- 1Tuhan, lembutkan hati keluarga kami terhadap penderitaan orang lemah di sekitar kami.
- 2Ajar kami memberi tanpa pamrih karena kami telah lebih dahulu menerima kasih karunia-Mu.
- 3Jadikan rumah kami sumber berkat bagi yang membutuhkan, sebagai pelayanan kepada-Mu.