Kembali

Ganjaran Kerendahan Hati

AmsalKerendahan hati dan takut akan Tuhan

Ayat Firman

Amsal 22:4

Ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

Konteks

Salomo merangkai kerendahan hati dengan takut akan Tuhan sebagai satu kesatuan sikap. Dari sikap inilah mengalir kekayaan, kehormatan, dan kehidupan sejati. Ayat ini menyingkapkan pondasi seluruh hikmat dalam kitab Amsal.

Renungan

Ayat ini menempatkan dua hal sebagai satu akar tunggal: "kerendahan hati dan takut akan Tuhan." Dalam bahasa Ibrani, keduanya begitu menyatu sehingga dapat dibaca "kerendahan hati, yaitu takut akan Tuhan." Tidak ada kerendahan hati sejati tanpa takut akan Tuhan, dan tidak ada takut akan Tuhan tanpa kerendahan hati. Mengapa? Karena ketika seseorang sungguh melihat siapa Allah — kekudusan, kebesaran, dan kedaulatan-Nya — maka mau tidak mau ia akan merunduk. Dari akar ganda inilah Salomo berkata mengalir tiga buah: "kekayaan, kehormatan dan kehidupan." Perhatikan bahwa urutan dalam Amsal selalu meletakkan sikap hati sebagai sebab, dan berkat sebagai akibat — bukan sebaliknya.

Teologi Reformed memahami takut akan Tuhan bukan sebagai ketakutan budak terhadap tuan yang kejam, melainkan sebagai hormat yang dalam dari seorang anak terhadap Bapa yang mulia. Kerendahan hati lahir dari pengenalan ganda yang ditekankan Calvin di awal Institutio: pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri. Semakin kita mengenal kebesaran Allah, semakin kita menyadari kekecilan dan kebobrokan kita. Kerendahan hati bukanlah merendahkan diri secara palsu, melainkan melihat diri dengan benar di hadapan terang Allah. Inilah yang membedakan orang berhikmat dari orang bodoh — bukan kecerdasan, melainkan posisi hati di hadapan Sang Pencipta. Manusia yang takut akan Tuhan menempatkan Allah sebagai pusat, dan dengan demikian segala sesuatu lainnya menemukan tempatnya yang benar.

Di sinilah kita harus menolak teologi kemakmuran yang menjijikkan, yang membaca ayat ini sebagai rumus: "Rendahkan dirimu, maka Tuhan akan membuatmu kaya." Itu adalah penyimpangan yang menjadikan kerendahan hati sebagai alat untuk meraih kekayaan duniawi — yang justru bertentangan dengan hakikat kerendahan hati itu sendiri! Kekayaan, kehormatan, dan kehidupan yang dijanjikan di sini terutama bersifat rohani dan kekal, meskipun Allah dalam kedaulatan-Nya kadang juga memberkati secara jasmani. Kristus, Tuhan kita, adalah teladan tertinggi: Ia merendahkan diri sampai mati di kayu salib, dan justru karena itu Allah meninggikan Dia. Jalan kerendahan hati adalah jalan salib, bukan jalan ke kemewahan. Kita tidak rendah hati supaya mendapat berkat; kita rendah hati karena kita telah melihat Allah.

Keluarga adalah tempat pertama anak belajar kerendahan hati atau kesombongan. Dunia mengajarkan anak-anak untuk percaya diri secara berlebihan, untuk menonjolkan diri, untuk merasa berhak atas segalanya. Sebagai orang tua, lawanlah arus ini. Ajarkan anak untuk takut akan Tuhan — bukan takut yang mengerikan, tetapi hormat yang membuat mereka tunduk pada otoritas Allah dan firman-Nya. Teladankan kerendahan hati di rumah: orang tua yang berani meminta maaf kepada anak ketika salah, yang tidak selalu menuntut dihormati tetapi terlebih dahulu menghormati. Ketika anak berprestasi, arahkan hati mereka untuk bersyukur kepada Tuhan, bukan membanggakan diri. Keluarga yang dibangun di atas kerendahan hati dan takut akan Tuhan akan mewariskan kekayaan yang tidak dapat dicuri pencuri.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur atas teladan kerendahan hati Kristus yang merendahkan diri sampai mati di kayu salib.
  2. 2Memohon agar Tuhan menanamkan takut akan Dia yang sejati dalam hati setiap anggota keluarga.
  3. 3Berdoa agar kami tidak menjadikan kerendahan hati sebagai alat meraih kekayaan duniawi.
  4. 4Mendoakan agar anak-anak kami tumbuh dengan hati yang tunduk pada otoritas Allah dan firman-Nya.

Bahan Renungan

Dalam hal apa kita cenderung sombong, dan bagaimana mengenal kebesaran Allah dapat menolong kita menjadi rendah hati?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda