Kembali

Mata yang Murah Hati

AmsalKemurahan hati yang mengalir dari anugerah

Ayat Firman

Amsal 22:9

Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.

Konteks

Salomo memuji orang yang murah hati, yang secara harfiah memiliki "mata yang baik." Berkat menyertai mereka yang membagikan makanannya kepada orang miskin. Ayat ini menghubungkan kondisi hati dengan tindakan konkret kepada sesama.

Renungan

Frasa "orang yang baik hati" dalam bahasa Ibrani secara harfiah berbunyi "orang yang bermata baik" (tov ayin). Ini adalah idiom yang kaya makna. Cara seseorang memandang menentukan cara ia bertindak. Orang yang "bermata baik" melihat kebutuhan orang lain dan tergerak untuk memberi, sebagai lawan dari orang "bermata jahat" (Amsal 23:6) yang pelit dan iri. Lalu Salomo menjelaskan apa yang membuat mata ini baik: "karena ia membagi rezekinya dengan si miskin." Murah hati bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata membagikan apa yang dimiliki. Dan ayat ini menjanjikan bahwa orang seperti ini "akan diberkati." Sekali lagi, urutan Amsal: hati yang benar menghasilkan tindakan yang benar, dan tindakan itu hidup dalam aliran berkat Allah.

Dari mana datangnya mata yang murah hati? Di sinilah teologi anugerah berbicara. Secara alami, manusia berdosa memiliki "mata yang jahat" — kita lahir egois, menggenggam erat apa yang kita miliki, memandang orang lain sebagai ancaman terhadap kenyamanan kita. Kemurahan hati bukanlah kecenderungan alamiah; ia adalah buah dari hati yang telah diubahkan. Ketika seseorang menyadari bahwa segala yang ia miliki adalah anugerah cuma-cuma dari Allah — bahwa ia sendiri adalah penerima belas kasih yang tak layak ia terima — maka tangannya yang dahulu menggenggam mulai terbuka. Allah Tritunggal sendiri adalah Allah yang memberi: Bapa memberikan Anak-Nya, Anak memberikan nyawa-Nya, Roh memberikan diri-Nya kepada umat. Kemurahan hati adalah cerminan dari sifat Allah yang murah.

Namun berhati-hatilah terhadap pemikiran dagang yang berbisik, "Aku memberi kepada si miskin supaya aku diberkati dan menjadi kaya." Itu bukan kemurahan hati, melainkan investasi yang berkedok kebaikan. Allah tidak dapat ditipu; Ia melihat motif di balik tangan yang memberi. Berkat yang dijanjikan bukanlah imbalan otomatis yang kita raih melalui transaksi, melainkan kebahagiaan dan kepuasan rohani yang menyertai hati yang telah dimerdekakan dari cinta uang. Orang yang memberi demi mendapat sebenarnya tidak pernah memberi sama sekali — ia hanya berinvestasi. Kemurahan hati sejati memberi tanpa menghitung balasan, karena ia mengalir dari hati yang telah lebih dahulu menerima Kristus, harta yang tak ternilai.

Keluarga adalah sekolah pertama untuk mata yang murah hati. Anak-anak belajar memberi atau menggenggam dengan menonton orang tua mereka. Apakah anak-anak Anda melihat keluarga yang terbuka tangannya — yang berbagi makanan dengan tetangga yang kekurangan, yang memberi kepada gereja dan misi dengan sukacita, yang tidak panik soal uang? Atau apakah mereka melihat keluarga yang selalu cemas, pelit, dan menggenggam? Latihlah anak sejak kecil untuk membagikan miliknya — mainan kepada teman, uang jajan untuk persembahan, makanan untuk yang lapar. Tetapi jangan ajarkan mereka memberi untuk mendapat balasan; ajarkan mereka memberi karena Allah telah memberikan segalanya kepada kita di dalam Kristus. Keluarga dengan mata yang murah hati adalah keluarga yang memancarkan terang Injil.

Pokok Doa

  1. 1Bersyukur bahwa Allah adalah Allah yang memberi, yang menyerahkan Anak-Nya bagi kita.
  2. 2Memohon agar Tuhan mengubah mata kami yang jahat menjadi mata yang murah hati.
  3. 3Berdoa agar kemurahan hati kami lahir dari hati yang telah menerima anugerah, bukan dari keinginan mendapat balasan.
  4. 4Mendoakan agar anak-anak kami tumbuh dengan tangan yang terbuka untuk berbagi dengan sesama.

Bahan Renungan

Apa yang kita miliki saat ini yang dapat kita bagikan dengan orang yang berkekurangan, dan apa yang menghalangi kita untuk memberi dengan sukacita?

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiara
Beranda