Allahku, Mengapa Kau Tinggalkan Aku
Ayat Firman
Mazmur 22:1-5
“Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku. Allahku, aku berseru-seru pada waktu siang, tetapi Engkau tidak menjawab, dan pada waktu malam, tetapi tidak juga aku tenang. Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. Kepada-Mu orang tua kami percaya; mereka percaya, maka Engkau meluputkan mereka. Kepada-Mu mereka berseru-seru, dan mereka terluput; kepada-Mu mereka percaya, dan mereka tidak mendapat malu.”
Konteks
Mazmur 22 adalah mazmur mesianik yang paling jelas, dikutip oleh Yesus sendiri di atas kayu salib. Mazmur ini membuka jendela ke dalam penderitaan terdalam—rasa ditinggalkan oleh Allah—namun tetap berpegang pada iman. Perjanjian Baru melihat penggenapan mazmur ini dalam penyaliban Kristus.
Renungan
Tidak ada kata pembuka yang lebih menggetarkan daripada ini: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Daud sedang mengalami penderitaan yang begitu dalam sehingga ia merasa ditinggalkan oleh Allah sendiri. Ia berseru siang dan malam, tetapi Allah seakan diam. Namun perhatikan satu hal yang luar biasa: bahkan dalam rasa ditinggalkan ini, Daud tetap memanggil "Allahku." Imannya tidak hilang; ia justru mengarahkan jeritannya kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Dan ia segera mengingat: "Padahal Engkaulah Yang Kudus... Kepada-Mu orang tua kami percaya... dan mereka terluput." Di tengah kegelapan, Daud berpegang pada kesetiaan Allah yang terbukti dalam sejarah umat-Nya.
Namun mazmur ini melampaui Daud. Di kayu salib, Yesus mengutip kata-kata ini: "Eli, Eli, lama sabakhtani—Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Di sinilah kita memahami kedalaman mazmur ini secara Kristosentris. Yesus tidak sekadar merasa ditinggalkan—Ia sungguh-sungguh menanggung murka Allah atas dosa kita, sehingga Ia mengalami keterpisahan yang nyata dari Bapa. Inilah misteri salib: Sang Anak yang kekal, yang tidak pernah terpisah dari Bapa, menanggung penghukuman yang seharusnya menjadi bagian kita. Mazmur 22 yang berlanjut menggambarkan tangan dan kaki yang ditusuk, pakaian yang dibagi dengan undi—nubuat yang digenapi secara harfiah di Golgota. Allah meninggalkan Kristus agar Ia tidak pernah meninggalkan kita.
Kita sering keliru mengira bahwa iman sejati berarti tidak pernah merasa ditinggalkan atau bingung. Maka ketika kegelapan datang, kita merasa bersalah karena bertanya "mengapa." Tetapi mazmur ini—dan teladan Kristus—mengajarkan bahwa pertanyaan jujur kepada Allah bukanlah dosa; itu adalah bentuk iman yang membawa luka kepada Allah, bukan menyembunyikannya. Yang penting bukan ketiadaan pergumulan, melainkan ke mana kita membawa pergumulan itu. Daud dan Kristus sama-sama berseru "Allahku"—mereka berpegang pada Allah justru ketika merasa ditinggalkan. Iman bukan berarti tidak punya pertanyaan; iman berarti tetap berpaling kepada Allah dengan semua pertanyaan itu.
Dalam keluarga, ada saat-saat ketika kita atau anak-anak kita mengalami kegelapan—kehilangan, sakit, doa yang seakan tidak dijawab. Jangan ajarkan anak-anak untuk berpura-pura selalu kuat dan ceria. Ajarkan mereka bahwa orang beriman pun boleh menangis dan bertanya kepada Allah, seperti Daud dan seperti Yesus. Namun ajarkan juga untuk selalu mengarahkan jeritan itu kepada Allah, bukan menjauh dari-Nya. Dan di atas segalanya, tunjukkan kepada mereka salib: karena Yesus pernah ditinggalkan demi kita, kita memiliki jaminan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar ditinggalkan. Bahkan dalam lembah yang paling gelap, kita boleh berkata "Allahku"—dan Ia ada di sana.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa Kristus rela ditinggalkan oleh Bapa di kayu salib agar kita tidak pernah ditinggalkan oleh Allah.
- 2Memohon iman yang tetap berpegang pada Allah bahkan di tengah kegelapan dan rasa ditinggalkan.
- 3Berdoa agar keluarga belajar membawa pergumulan dan pertanyaan yang jujur kepada Allah, bukan menyembunyikannya.
- 4Mendoakan mereka yang sedang dalam penderitaan dan merasa Allah jauh, agar mereka menemukan penghiburan di kaki salib.
Bahan Renungan
Pernahkah kita merasa seakan Allah jauh ketika berdoa? Bagaimana kenyataan bahwa Yesus pernah berseru "mengapa Kau tinggalkan Aku" di kayu salib menghibur kita dalam saat-saat seperti itu?