Baik untuk Bersyukur kepada Tuhan
Ayat Firman
Mazmur 92:1-4
“Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam. Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.”
Konteks
"Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam." Mazmur ini, yang menurut.
Renungan
"Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam." Mazmur ini, yang menurut judulnya adalah nyanyian untuk hari Sabat, membuka dengan pernyataan sederhana namun mendalam: adalah baik untuk bersyukur kepada TUHAN. Bersyukur bukan hanya kewajiban, melainkan sesuatu yang baik, yang benar, yang sesuai dengan tatanan ciptaan. Manusia diciptakan untuk memuji dan bersyukur kepada Penciptanya. Ketika kita bersyukur, kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan; kita selaras dengan tujuan keberadaan kita. Perhatikan ritme yang disebutkan: memberitakan kasih setia Allah di waktu pagi dan kesetiaan-Nya di waktu malam. Ini berbicara tentang ibadah yang berkesinambungan, mengisi seluruh hari dari pagi sampai malam. Kasih setia dan kesetiaan Allah menjadi tema pujian sepanjang hari, mengingatkan kita bahwa setiap saat berada dalam pemeliharaan Allah yang tidak pernah lalai.
Ayat 4 menyatakan sumber sukacita pemazmur: "Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai." Sukacita dan syukur pemazmur berakar pada perenungan terhadap pekerjaan Allah. Ia tidak bersyukur dalam kekosongan, melainkan karena ia melihat dan merenungkan apa yang telah Allah lakukan. Dalam pandangan Reformed, perenungan terhadap karya Allah, baik dalam penciptaan maupun dalam penebusan, adalah bahan bakar bagi penyembahan. Semakin kita mengenal Allah dan karya-Nya, semakin besar syukur kita. Pujian bukan sekadar emosi yang dipaksakan, melainkan respons yang mengalir dari pikiran yang merenungkan kebaikan Allah. Inilah sebabnya teologi yang sehat dan penyembahan yang sejati tidak dapat dipisahkan. Mengenal Allah dengan benar menghasilkan pujian yang sejati.
Kekristenan dangkal sering kekurangan rasa syukur. Orang menerima berkat demi berkat dari Allah, namun menganggapnya sebagai hak yang sudah seharusnya, bukan anugerah yang patut disyukuri. Mereka cepat mengeluh ketika tidak mendapat yang diinginkan, tetapi lambat bersyukur atas apa yang telah diterima. Hati yang tidak bersyukur adalah hati yang tidak mengenal anugerah. Bagi keluarga kita, renungan ini menantang kita membangun budaya syukur di rumah. Mulailah hari dengan memberitakan kasih setia Allah dan akhiri hari dengan mengakui kesetiaan-Nya. Ajarlah anak-anak untuk bersyukur, bukan menuntut, untuk melihat segala sesuatu sebagai pemberian Allah. Renungkanlah bersama pekerjaan Allah, baik dalam ciptaan maupun dalam hidup keluarga, dan biarlah perenungan itu menghasilkan sukacita dan pujian. Sebab adalah baik untuk bersyukur kepada TUHAN, dan keluarga yang bersyukur adalah keluarga yang selaras dengan tujuan penciptaannya: memuliakan Allah.
Pokok Doa
- 1Bersyukur bahwa adalah baik dan benar untuk memuji TUHAN sepanjang hari.
- 2Memohon agar keluarga kami membangun budaya syukur, bukan budaya menuntut.
- 3Mendoakan agar perenungan akan karya Allah menghasilkan pujian yang sejati di rumah kami.
Bahan Renungan
Bagaimana keluarga kita dapat memulai dan mengakhiri setiap hari dengan mengakui kasih setia dan kesetiaan Allah?