Kembali

Tinggal di Dalam Kasih-Nya

YohanesTinggal di Dalam Kasih-Nya

Ayat Firman

Yohanes 15:9-12

Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

Konteks

Yohanes 15:9-12 melanjutkan perumpamaan pokok anggur dan menempatkan tema "tinggal dalam kasih" sebagai ekspresi terdalam dari persatuan dengan Kristus. Kalimat "seperti Bapa telah mengasihi Aku" (καθὼς ἠγάπησέν με ὁ πατήρ) menarik garis vertikal dari kasih Tritunggal yang kekal sebagai asal dan ukuran kasih kepada murid-murid. Kata "perintah" (ἐντολή, entolē) dalam ayat 10 dan 12 merujuk pada satu perintah besar (kasih), berbeda dari "perintah-perintah" (ἐντολαί, entolai, jamak) yang mungkin lebih mengacu pada Taurat. Kata "sukacita" (χαρά, chara) muncul di sini dan dalam doa Yohanes 17:13, menunjukkan bahwa sukacita bukan dari keadaan eksternal tetapi dari kepenuhan kesadaran akan kasih Allah. Frasa "seperti Aku telah mengasihi kamu" (καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς) adalah aorist — merujuk pada kasih yang telah dinyatakan secara konkret, mengarah pada pengorbanan salib yang segera terjadi (15:13). Perintah ini secara sadar ditempatkan malam sebelum salib, memberi kasih pengorbanan sebagai definisi dan standar.

Renungan

Tuhan Yesus menarik garis kasih yang luar biasa: "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu." Sadarkah kita betapa besar pernyataan ini? Kasih Bapa kepada Anak adalah kasih kekal, kasih yang sempurna, kasih yang tidak pernah berkurang sejak kekekalan. Dan dengan ukuran kasih itulah Kristus mengasihi kita. Kita sering mengukur kasih Allah dari perasaan kita yang naik turun, dari keadaan hidup yang baik atau buruk. Tetapi kasih Kristus tidak diukur dari keadaan kita; ia diukur dari kasih Bapa kepada-Nya — dan itu tidak tergoyahkan.

Lalu Ia berkata: "Tinggallah di dalam kasih-Ku." Bagaimana caranya? "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku." Di sini banyak orang salah paham, mengira ketaatan adalah syarat agar dicintai. Bukan. Kita menaati bukan untuk dikasihi, melainkan karena sudah dikasihi. Ketaatan adalah saluran tempat kita menikmati kasih yang sudah diberikan. Seperti anak yang taat tinggal dekat dengan kehangatan orang tuanya, demikian ketaatan membuat kita tetap berdiam dalam kehangatan kasih Kristus. Anak yang memberontak tetap dikasihi, tetapi ia tidak menikmati kasih itu karena ia berlari menjauh.

Dan apa tujuan akhirnya? Sukacita yang penuh. Pak Tong menegaskan bahwa Kekristenan sejati tidak pernah menghasilkan wajah yang muram dan tertekan, melainkan sukacita yang dalam — bukan sukacita dangkal yang tergantung keadaan, tetapi sukacita Kristus sendiri yang mengalir ke dalam kita. Di akhir tahun ini, mungkin keluarga kita lelah dan terluka. Tetapi Kristus tidak menawarkan hiburan murahan; Ia menawarkan sukacita-Nya sendiri, dan perintah agar kita saling mengasihi seperti Ia mengasihi kita. Keluarga yang saling mengasihi dengan kasih Kristus adalah keluarga yang sukacitanya tidak dapat dirampas dunia.

Pokok Doa

  1. 1Bapa, terima kasih karena Engkau mengasihi Anak-Mu dengan kasih kekal, dan dengan kasih itu pula Kristus mengasihi kami.
  2. 2Ajar keluarga kami tinggal dalam kasih-Mu melalui ketaatan, supaya sukacita Kristus memenuhi rumah kami.
  3. 3Bimbing keluarga kami hidup sesuai kebenaran firman-Mu setiap hari. Amin.

Navigasi

BerandaArsipPenandaTentangMutiaraDoaHimneTokoh
Beranda